SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement Advertisement
VistaEdu
Beranda » VistaEdu » Film Pendek Jadi Cara Baru Kelas Pekerja Menyuarakan Aspirasi di Era Digital

Film Pendek Jadi Cara Baru Kelas Pekerja Menyuarakan Aspirasi di Era Digital

Kegiatan 'Workshop Short Movie Aksi Massa Menyampaikan Aspirasi’ di Studio Citra Film School, Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Jakarta. (Foto: KD)
Kegiatan 'Workshop Short Movie Aksi Massa Menyampaikan Aspirasi’ di Studio Citra Film School, Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Jakarta. (Foto: KD)

JAKARTA, VISTA.CO.ID – Penyampaian aspirasi kelas pekerja tidak harus selalu dilakukan melalui demonstrasi di jalanan. Di era digital, film pendek dapat menjadi medium alternatif untuk menyuarakan persoalan buruh dan masyarakat luas, sekaligus menjangkau publik dengan cara yang lebih kreatif.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam ‘Workshop Short Movie Aksi Massa Menyampaikan Aspirasi’ yang diselenggarakan di Studio Citra Film School, Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Jakarta.

Workshop batch pertama ini mengambil tema ‘Kamera Pengganti Megafon, Layar Pengganti Jalanan, Visual Pengganti Slogan’. 

Kegiatan ini mempertemukan aktivis gerakan sosial dengan praktisi perfilman untuk mengembangkan cara baru dalam menyampaikan isu-isu masyarakat melalui karya sinematik, diikuti oleh komunitas film, mahasiswa dan praktisi media kreatif.

Workshop ini merupakan rangkaian kegiatan MADFest Merah Putih 2027. MADFest Merah Putih (May Day Festival) Merah Putih adalah festival film kelas pekerja yang mewadahi film pendek mengenai kelas pekerja yang pemenangnya akan diikutkan dalam festival sejenis bertaraf internasional. 

Krisdayanti hingga ADA Band Tampil di Konser Amal Peduli Kanker

MADFest Merah Putih diselenggarakan pertamakalinya Agustus 2026 lalu dan menghasilkan 2 karya yang dikirim ke festival film kelas pekerja di Inggris dan Australia. 

Dalam sambutannya, H. Sonny Pudjisasono, S.H., M.B.A., Ketua Badan Pengurus Yayasan PPHUI menekankan bahwa film pendek memiliki kekuatan untuk merangkum persoalan sosial menjadi pesan yang ringkas, mudah dipahami, dan berpotensi menjangkau khalayak luas melalui platform digital.

Menurut dia, film berdurasi sekitar tiga menit pun dapat menjadi sarana untuk menyampaikan aspirasi secara efektif. Dengan dukungan teknologi yang kini mudah diakses, termasuk telepon seluler, masyarakat memiliki kesempatan untuk mendokumentasikan persoalan di sekitarnya dan menyampaikannya kepada publik.

“Tidak semua orang bisa membuat film pendek. Ada ilmu dan keterampilan tersendiri untuk mengemas aspirasi menjadi skenario, kemudian menerjemahkannya ke dalam adegan-adegan sinematik,” ujar Sonny Pudjisasono.

Mengemas Aspirasi Menjadi Karya Sinematik

Warkop KITARO Hadir di Kota Tangerang, Tawarkan Galeri Sachet Dunia dan Ruang Kolaborasi Bisnis

Selama ini, demonstrasi menjadi salah satu cara yang lazim digunakan masyarakat untuk menyampaikan tuntutan kepada pemerintah maupun pemangku kebijakan. 

Bagi kalangan pekerja, tuntutan tersebut antara lain berkaitan dengan upah, hak-hak pekerja, jaminan sosial, dan berbagai persoalan ketenagakerjaan lainnya.

Penyampaian aspirasi melalui film pendek dinilai dapat memperluas jangkauan pesan tersebut. Jika demonstrasi mengandalkan kehadiran massa di ruang publik, film memungkinkan pesan disebarluaskan melalui ruang digital dan ditonton berulang kali oleh masyarakat di berbagai wilayah.

Sonny Pudjisasono kemudian mengibaratkan pendekatan tersebut dengan penggunaan kesenian tradisional, seperti ludruk di Jawa Timur, yang pada masa lalu kerap menjadi ruang untuk menyampaikan kritik dan aspirasi masyarakat.

Perbedaannya, di era digital, film pendek dapat menjalankan fungsi serupa dengan bahasa visual yang lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat saat ini. Namun, mengubah aspirasi menjadi film bukan sekadar merekam demonstrasi atau membuat dokumentasi kegiatan. 

BINUS University dan SCUT Luncurkan Program Joint Degree, Peluang Raih 2 Gelar Sarjana Lintas Negara

Hal itu, diperlukan proses kreatif untuk merumuskan gagasan, menyusun skenario, membangun adegan, dan menentukan cara penyampaian pesan agar substansi persoalan tetap terjaga.

Karena itu, workshop ini dirancang untuk mempertemukan pengalaman para aktivis dengan pengetahuan teknis para pembuat film. Aktivis diharapkan dapat membawa pemahaman mengenai persoalan sosial dan dinamika gerakan masyarakat, sedangkan sineas membantu menerjemahkannya menjadi karya yang komunikatif dan memiliki kekuatan sinematik.

Membedakan Kritik dengan Hoaks

Dalam workshop tersebut, Ilhamsyah, seorang aktivis buruh yang kini menjadi ketua serikat buruh membagikan pengalamannya sebagai seorang aktivis.

Selain Ilhamsyah sebagai mentor yang menyampaikan materi Aspirasi Demonstrasi, mentor lain adalah Arry WS dengan materi ‘Mengubah Bahasa Verbal menjadi Pesan Visual, Nick Siahaan menyampaikan dasar penulisan skenario dan editing menggunakan handphone, serta Ensadi Joko Santoso yang juga Direktur Citra School of Film menyampaikan materi tata kamera dan penyutradaraan.

Selain keterampilan produksi, workshop juga menyoroti pentingnya memahami aturan dalam menyampaikan aspirasi melalui ruang digital.

Sonny Pudjisasono menilai, peserta perlu memahami perbedaan antara kritik dan penyampaian aspirasi yang sah dengan ujaran kebencian, hoaks, maupun manipulasi informasi. 

Pemahaman tersebut diperlukan agar film yang diproduksi tidak kehilangan substansi sekaligus dapat dipertanggungjawabkan.

Sonny juga menyinggung perlunya memahami ketentuan yang berlaku dalam produksi dan peredaran film, termasuk regulasi yang berkaitan dengan Lembaga Sensor Film (LSF).

Dengan demikian, peserta diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi juga memahami tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Kegiatan 'Workshop Short Movie Aksi Massa Menyampaikan Aspirasi’ di Studio Citra Film School, Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Jakarta. (Foto: KD)
Kegiatan ‘Workshop Short Movie Aksi Massa Menyampaikan Aspirasi’ di Studio Citra Film School, Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Jakarta. (Foto: KD)

Membuka Ruang Pelatihan di Berbagai Daerah

Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas penggunaan film pendek sebagai medium penyampaian aspirasi kelas pekerja. 

Sebanyak 11 peserta yang mengikuti pelatihan perdana tersebut diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan yang diperoleh dan membagikannya kepada komunitas di daerah masing-masing.

Menurut Sonny, persoalan yang membutuhkan penyampaian aspirasi tidak hanya ditemukan di Jakarta. Berbagai daerah memiliki persoalan lokal yang perlu mendapat perhatian, bahkan isu-isu tertentu dapat berkembang menjadi kepentingan nasional.

Karena itu, pengembangan kapasitas masyarakat dalam membuat film pendek dinilai penting agar lebih banyak kelompok dapat menyuarakan persoalannya secara mandiri.

Kolaborasi antara aktivis dan sineas diharapkan dapat melahirkan karya-karya yang bukan sekadar menjadi dokumentasi gerakan, melainkan juga mampu menyampaikan persoalan masyarakat secara lebih mendalam dan menjangkau khalayak yang lebih luas.

Inisiatif ini sekaligus memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi gerakan masyarakat. Dengan perangkat sederhana dan kemampuan bercerita yang tepat, film pendek dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan persoalan, membangun kesadaran publik, dan membawa aspirasi masyarakat ke ruang diskusi yang lebih luas.

Dalam kesempatan itu, Ilhamsyah mengatakan, teknologi digital mengubah cara gerakan sosial menyampaikan gagasan, membangun kesadaran dan mengajak publik terlibat.

‘’Jika sebelumnya aktivits mengandalkan pidato, surat kabar, dan selebaran, kini film pendek membuka ruang baru untuk menyebarkan aspirasi. Bagi saya, media adalah sarana untuk berpropaganca,’’ ujar Ilhamsyah.

Ia mengatakan, keterlibatannya dalam gerakan sosial berangkat dari kesadaran terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Pengalaman itu, membawanya dari aktivitas mahasiswa ke pengorganisasian buruh.

Menurut dia, perubahan sosial membutuhkan komunikasi yang mampu menjelaskan persoalan kepada masyarakat. Kesadaran segelintir orang tidak cukup tanpa keterlibatan publik yang lebih luas. Cara menyebarkan gagasan terus berubah mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. (*/KD)

Bagikan Artikel

VistaTekno






VistaOto






Berita Populer

01

75 Tahun Seminari Stella Maris Bogor: Alumni Gelar Reuni Lintas Angkatan di Yogyakarta

02

Film Unfaithful 2: Richard Gere dan Diane Lane, Perselingkuhan Lama Bersemi Kembali

03

SSB Kemayoran 17 FC dan SSB Garecs Juara U-9 dan U-11 di EYSC 2025

04

Tante Sonya Tak Sekadar Kisah Romansa, WeTV Bidik Penonton Global

05

Esporto Youth Soccer Championship 2025 Diikuti 10 Tim SSB di Jakarta

06

Ramon Tanque Ingin Cetak Gol Pertama ke Gawang Dewa United

07

SilverStream Solusi Cepat untuk Perawatan dan Penyembuhan Luka

08

Paviliun Raden Saleh Hadir Sebagai Hotel di Kawasan TIM Cikini

09

Pameran SIAL Interfood 2025 di JIExpo Kemayoran, Ini Rangkaian Acara Menariknya 

Pilihan Editor