SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement Advertisement
VistaEdu
Beranda » VistaEdu » Polisi Bersama Masyarakat Dalam Bingkai Kearifan Lokal

Polisi Bersama Masyarakat Dalam Bingkai Kearifan Lokal

Irjen Pol Dr. Susilo Teguh Rahardjo, M.Si (Foto - Istimewa)
Irjen Pol Dr. Susilo Teguh Rahardjo, M.Si (Foto - Istimewa)

Oleh: Irjen Pol Dr. Susilo Teguh Rahardjo, M.Si

Kearifan lokal dalam sebuah falsafah Jawa yang sederhana, tetapi memiliki kedalaman makna sosial yang luar biasa.

“Pager mangkok luwih kuwat tinimbang pager tembok.”

Secara harfiah, kalimat tersebut berarti pagar mangkuk lebih kuat daripada pagar tembok. Tentu saja, ini bukan perbandingan mengenai kekuatan material. Tembok secara fisik jelas lebih kokoh daripada sebuah mangkuk. Namun, falsafah tersebut berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih penting dalam kehidupan bermasyarakat: kekuatan hubungan antar manusia.

Pager tembok membatasi secara fisik. Ia memisahkan “yang di dalam” dan “yang di luar”. Sementara itu, pager mangkok merupakan simbol kebaikan, keramahan, kepedulian, berbagi dan hubungan sosial yang membuat seseorang merasa menjadi bagian dari lingkungan.

UNPAR Bogor Resmi Dibuka, Hadirkan Prodi Arsitektur dan Teknik Industri

Dalam konteks pemolisian, falsafah ini menjadi sangat relevan. Keamanan masyarakat pada akhirnya tidak hanya dibangun dengan pagar, kamera pengawas, kendaraan patroli, teknologi, maupun kekuatan hukum. Keamanan juga dibangun melalui kepercayaan masyarakat kepada polisi dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya.

Dengan kata lain, keamanan yang paling kuat bukan hanya keamanan yang dijaga dari luar, tetapi keamanan yang tumbuh dari dalam masyarakat itu sendiri.

Pager Tembok: Simbol Keamanan yang Bersifat Fisik

Tembok merupakan simbol klasik tentang perlindungan.

Rumah dibatasi tembok agar terlindung dari gangguan. Institusi membangun pagar untuk mengendalikan akses. Kawasan tertentu menggunakan sistem keamanan, CCTV, gerbang, petugas, dan teknologi untuk mencegah ancaman.

Siswa dan Guru SMKN 3 Kediri Dapat Pelatihan Bakery dari Bogasari

Semua itu penting.

Dalam pemolisian modern, aspek physical security tetap diperlukan. Polisi membutuhkan sarana, teknologi, sistem pengamanan, infrastruktur, serta kemampuan operasional untuk menghadapi berbagai bentuk ancaman.

Namun, ada batas yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan tembok.

Tembok tidak selalu mengetahui siapa yang mencurigakan.

CCTV tidak selalu memahami konteks sosial.

Bahasa Mandarin Makin Diminati, Duolingo Ungkap Tren Belajar Bahasa di Indonesia

Algoritma tidak selalu memahami motif manusia.

Patroli tidak mungkin hadir di setiap sudut lingkungan setiap saat.

Karena itu, pemolisian membutuhkan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar kemampuan mengawasi dan mengendalikan.

Ia membutuhkan masyarakat yang peduli terhadap keamanan bersama.

Di sinilah makna “pager mangkok” menjadi penting. Pager Mangkok, Keamanan yang Dibangun melalui Relasi Sosial

“Mangkok” dalam falsafah tersebut dapat dimaknai sebagai simbol pemberian dan berbagi.

Seseorang yang memberikan makanan kepada tetangganya sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan makanan. Ia sedang membangun hubungan sosial.

Dari hubungan sosial lahir:

dari saling kenal meningkat menjadi rasa peduli sehingga membangun rasa percaya satu sama lain sehingga menumbuhkan tasa untu saling membantu dan pada akhirnya saling menjaga karena sudah merasa sabagainsebuah keluarga.

Ketika hubungan sosial kuat, seseorang tidak lagi melihat tetangganya sebagai orang asing. Ia mulai mengenali,  Siapa yang tinggal di sebelah rumahnya, Siapa yang sedang mengalami kesulitan, Siapa yang membutuhkan bantuan, Siapa yang baru datang ke lingkungan dan bahkan siapa yang perilakunya mulai berbeda dari biasanya.

Dalam perspektif pemolisian, kondisi tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga.

Masyarakat yang saling mengenal memiliki kemampuan deteksi sosial yang jauh lebih kuat dibandingkan masyarakat yang hidup secara individualistik dan tidak saling peduli.

Dari “Menjaga Keamanan” Menjadi “Membangun Keamanan”

Paradigma pemolisian tradisional sering kali menempatkan polisi sebagai aktor utama keamanan.

Polisi menjaga.

Polisi mengawasi.

Polisi menindak.

Polisi menangani gangguan keamanan.

Paradigma pemolisian modern berkembang menuju pendekatan yang lebih kolaboratif.

Keamanan bukan hanya urusan polisi, tetapi merupakan urusan bersama.

Masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib dan nyaman. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi sosial, komunitas, dan berbagai kelompok masyarakat dapat menjadi bagian dari ekosistem keamanan.

Dalam konteks inilah “pager mangkok” dapat diterjemahkan sebagai, upaya membangun keamanan melalui hubungan sosial, kepedulian dan kepercayaan masyarakat. 

Polisi tidak hanya datang ketika kejahatan terjadi. Polisi hadir untuk membangun hubungan sebelum masalah terjadi. dan Inilah salah satu esensi community policing Polisi bersama masyarakat Polisi memecahkan masalah masyarakat. Kondisi yang terbangun dalam Pemolisian diatas akan membangun kepercayaan. 

Kepercayaan adalah “Pager” yang Tidak Terlihat namun memiliki kekuatan luar biasa. 

Ketika masyarakat percaya kepada polisi, informasi lebih mudah didapati dan masyarakat  lebih terbuka memberikan informasi sehingga lebih berani menyampaikan persoalan.

Pada akhirnya outcome yang dicapai adalah permasalahan lebih mudah dideteksi sejak dini dan tentunya dapat ditangani sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan.

Sebaliknya, ketika kepercayaan hilang, tembok setinggi apa pun tidak selalu mampu menciptakan rasa aman.

Polisi mungkin memiliki kewenangan.

Polisi mungkin memiliki teknologi.

Polisi mungkin memiliki personel.

Tetapi tanpa kepercayaan masyarakat, kemampuan tersebut tidak akan sepenuhnya menghasilkan keamanan yang berkelanjutan.

Karena itu, trust is a form of security infrastructure.

Kepercayaan harus dipandang sebagai bagian dari infrastruktur keamanan, sama pentingnya dengan sistem komunikasi, teknologi informasi, kendaraan patroli, maupun fasilitas kepolisian lainnya. (*/Red)

Irjen Pol Dr. Susilo Teguh Rahardjo, M.Si:

– Kepala Satuan Tugas Pusat Studi Kepolisian,

– Dosen Kepolisian Utama Kepolisian di STIK-PTIK Lemdiklat Polri,

– Ketua Ikatan Alumni Sekolah Pascasarjana (SPs) UNNES,

– Anggota Dewan Penasehat Masyarakat Sadar Seni, Budaya dan Pariwisata.

Bagikan Artikel

VistaTekno






VistaOto






Berita Populer

01

75 Tahun Seminari Stella Maris Bogor: Alumni Gelar Reuni Lintas Angkatan di Yogyakarta

02

SSB Kemayoran 17 FC dan SSB Garecs Juara U-9 dan U-11 di EYSC 2025

03

Film Unfaithful 2: Richard Gere dan Diane Lane, Perselingkuhan Lama Bersemi Kembali

04

Tante Sonya Tak Sekadar Kisah Romansa, WeTV Bidik Penonton Global

05

Esporto Youth Soccer Championship 2025 Diikuti 10 Tim SSB di Jakarta

06

Ramon Tanque Ingin Cetak Gol Pertama ke Gawang Dewa United

07

SilverStream Solusi Cepat untuk Perawatan dan Penyembuhan Luka

08

Paviliun Raden Saleh Hadir Sebagai Hotel di Kawasan TIM Cikini

09

Pameran SIAL Interfood 2025 di JIExpo Kemayoran, Ini Rangkaian Acara Menariknya 

Pilihan Editor