JAKARTA, VISTA.CO.ID – Menjadi pelaku industri kreatif secara langsung menjadi pengalaman tersendiri bagi Amin Abdullah. Di tengah aktivitasnya, ia memilih masuk ke dunia rekaman dan menghadirkan single “Biarkan Ada Ruang di Antara Kita”, sebuah lagu yang ditulis dan dinyanyikannya sendiri.
Bagi Amin, karya tersebut bukan sekadar aktivitas bermusik. Peluncuran single menjadi bagian dari upayanya memahami perkembangan industri musik secara langsung, khususnya di tengah perubahan ekosistem akibat digitalisasi.
“Peluncuran lagu ini tentu saja bermaksud untuk praktik langsung pada industri musik agar mengetahui perkembangan terkini. Insya Allah juga akan berguna menambah wawasan saya sebagai birokrat dan akademisi,” ujar Amin.
Pengalaman tersebut membuat Amin dapat melihat secara langsung berbagai tahapan dalam industri musik, mulai dari produksi, distribusi hingga promosi. Menurutnya, transformasi digital telah membuat produksi musik menjadi lebih mudah diakses, tetapi pada saat yang sama menciptakan persaingan yang semakin ketat.
“Biaya produksi lagu dalam zaman digital bisa lebih murah, namun justru biaya promosinya bisa besar sekali karena banyak sekali supply lagu dan mudah untuk masuk ke digital streaming platform,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat strategi promosi menjadi salah satu hal penting bagi musisi maupun kreator. Amin kemudian memperkenalkan konsep 3F, yakni Friends, Family, Foes, sebagai salah satu pendekatan untuk membantu memperluas pengenalan sebuah karya.
Teman, keluarga, maupun orang-orang yang memiliki pandangan berbeda dapat berkontribusi memperkenalkan lagu melalui aktivitas digital, seperti membagikan karya atau mengunggahnya melalui media sosial.
Sementara itu, “Biarkan Ada Ruang di Antara Kita” didistribusikan melalui agregator Langitku untuk mendukung Langit Musik, DSP nasional di bawah NUON. Lagu tersebut juga tersedia di sejumlah layanan musik global, termasuk Spotify, YouTube, dan Apple Music.
Di balik pengalaman memahami industri musik, Amin tetap menyelipkan pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lagu tersebut mengangkat gagasan bahwa hubungan cinta perlu memberikan ruang kepada masing-masing individu.
“Sayang boleh, cinta wajib, tetapi jangan sampai menggenggam terlalu erat hingga pasangan kehilangan ruang untuk bernapas,” ungkapnya.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa hubungan yang sehat tidak hanya dibangun melalui rasa cinta, tetapi juga kepercayaan, penghargaan, serta kesempatan bagi setiap pasangan untuk terus berkembang.
Dengan terjun langsung membuat dan merilis lagu, Amin berharap dapat memperoleh pemahaman yang lebih konkret mengenai kondisi industri musik digital sekaligus menghadirkan karya yang memiliki pesan bagi pendengarnya.
“Mohon doanya agar berkah dan amanah,” pungkasnya.
Amin Abdullah saat ini menjalankan tugas sebagai Direktur Musik Kementerian Ekonomi Kreatif. Selain itu, ia aktif sebagai akademisi yang mengajar mata kuliah Kebudayaan dan Industri Kreatif di Universitas Indonesia, Sunway University Malaysia, dan Institut Kesenian Jakarta. (*/san)
