JAKARTA, VISTA.CO.ID – Putri Marino mendapat tantangan besar ketika dipercaya memerankan karakter Pertiwi dalam film Empat Musim Pertiwi. Karakter tersebut digambarkan sebagai perempuan yang kembali ke tanah kelahirannya setelah puluhan tahun pergi dan harus berhadapan dengan berbagai kenangan masa lalu.
Bagi Putri, memerankan Pertiwi bukan pekerjaan mudah. Karakter tersebut membutuhkan energi besar karena memiliki perjalanan emosional yang kompleks.
Untuk membantu proses pendalaman karakter, sutradara Kamila Andini mengajak Putri mendiskusikan desain karakter Pertiwi. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah memberikan bahan bacaan berupa novel karya penulis perempuan asal Mesir, Nawal el-Saadawi.
“Di sini, aku diminta untuk menjadi seseorang yang seperti sudah mati di dalamnya, dingin,” ujar Putri Marino.
Menurut Putri, buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi turut membantunya memahami karakter Pertiwi dan pengalaman yang dilalui tokoh tersebut.
“Salah satu yang juga sebenarnya membantuku untuk mengembangkan karakter Pertiwi adalah saat aku diberi bahan bacaan buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi, dan aku akhirnya bisa memahami apa yang dilalui Pertiwi,” katanya.
Dalam cerita, Pertiwi pulang ke tanah kelahirannya setelah meninggalkan tempat tersebut selama puluhan tahun. Kepulangannya mempertemukan kembali dirinya dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Film ini juga menjadi reuni tim Gadis Kretek, yakni Kamila Andini, Ifa Isfansyah, Putri Marino, dan Arya Saloka. Ide pembuatan Empat Musim Pertiwi sendiri sudah muncul sejak 2017, jauh sebelum proyek Gadis Kretek dan Before, Now & Then.
Selain Putri Marino dan Arya Saloka, film ini turut dibintangi Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, dan Totos Rasiti.
Film tersebut juga membawa unsur keberagaman melalui keterlibatan Dwika Pradnyana, aktor dengan vitiligo, serta Hanna Aretha, aktor tuli.
Empat Musim Pertiwi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026 dan hadir di Busan International Film Festival 2026 dalam program A Window On Asian Cinema. (*/san)
