KABUPATEN SIGI, VISTA.CO.ID – Warisan pengetahuan seorang nenek menjadi awal perjalanan Nelam Ayu Kusuma mengembangkan produk perawatan tradisional di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Dari resep keluarga yang diwariskan secara turun-temurun, Nelamayu Tradisional kemudian lahir dan membawa kembali sejumlah pengetahuan tentang perawatan berbahan alam.
Salah satu pengetahuan yang dikuasai Nelam adalah bada kumba, bedak dingin berbahan beras dan rempah. Resep tersebut diperoleh dari sang nenek yang menjadi perawat herbal di kampung pada masa pendudukan Jepang.
Pada masa ketika obat-obatan sulit diperoleh, sang nenek memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar untuk membuat racikan perawatan. Beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan sejumlah rempah diracik menjadi bedak yang kemudian digunakan di lingkungan keluarga.
Racikan tersebut secara turun-temurun digunakan untuk membantu merawat kulit bayi dan anak-anak. Nelam kemudian mempelajari kembali bahan serta proses pembuatannya agar pengetahuan tersebut tidak berhenti pada satu generasi.
Warisan keluarga itu kemudian berkembang menjadi usaha yang berdiri pada 2018. Salah satu produk yang dikembangkan adalah badabida, lulur tradisional berbahan ketan hitam yang dahulu digunakan perempuan Kaili dalam ritual nombungu menjelang pernikahan.
“Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam.
Jika sebelumnya badabida dibuat dalam bentuk bedak atau masker sederhana, Nelam mengembangkannya menjadi body scrub yang lebih praktis digunakan masyarakat saat ini.
Meski membawa tradisi ke pasar modern, Nelam tidak ingin produknya hanya dipandang sebagai kosmetik berbahan alami. Ia berupaya mempertahankan kisah mengenai perempuan Kaili, pengetahuan keluarga, dan bahan-bahan alam yang menjadi bagian dari proses pembuatannya.
“Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tetapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung,” kata Nelam.
Upaya membawa resep tradisional ke pasar modern kemudian membutuhkan proses lebih panjang. Nelam tidak hanya perlu memikirkan kemasan, tetapi juga memahami aspek kebersihan dan keamanan, klasifikasi produk, perizinan, hingga batas klaim manfaat yang dapat digunakan.
Perkembangan usaha tersebut mendapat dukungan melalui program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023. Selama enam bulan, Nelam memperoleh pendampingan dalam pengembangan produk, penguatan usaha, pengurusan perizinan, pemasaran, dan akses pasar.
“Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya dan lingkungannya,” ujar Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari.
Pendampingan tersebut membantu Nelam memahami posisi produknya dalam ketentuan yang berlaku sehingga produk yang sebelumnya berada di antara perawatan tradisional dan kosmetik modern dapat diarahkan sesuai klasifikasi dan penggunaannya.
Dari resep yang diwariskan sang nenek hingga pengembangan badabida dalam bentuk yang lebih modern, Nelamayu Tradisional menjadi salah satu upaya membawa pengetahuan lama menuju generasi baru tanpa melepaskan akar budayanya. (*/san)
