SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement Advertisement
VistaEdu
Beranda » VistaEdu » 90 Tahun Romo Franz Magnis-Suseno, SJ: Hidup untuk Berpikir, Bersuara, dan Mengabdi Indonesia

90 Tahun Romo Franz Magnis-Suseno, SJ: Hidup untuk Berpikir, Bersuara, dan Mengabdi Indonesia

Romo Franz Magnis-Suseno, SJ. (Foto - @ranugh_girga)
Romo Franz Magnis-Suseno, SJ. (Foto - @ranugh_girga)

JAKARTA, VISTA.CO.ID – 26 Mei 2026, Gereja Katedral Jakarta akan menjadi saksi sebuah perayaan yang langka ulang tahun ke-90 Romo Franz Magnis-Suseno, SJ.

Momen ini makin istimewa karena bertepatan dengan Dies Natalis ke-57 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dengan tema besar: “Magnis untuk Indonesia.” 

Sebuah penghormatan pantas bagi sang filsuf, rohaniwan, dan intelektual publik yang lebih dari 50 tahun menjadi suara nurani bangsa.

Dari Bangsawan Jerman ke Anak Bangsa Indonesia

Lahir dengan nama Maria Franz Anton Valerian Ferdinand Graf von Magnis pada 16 Mei 1936 di Eckersdorf, Jerman, kini wilayah Polandia, ia berasal dari keluarga bangsawan Katolik.

Zurich Dukung Thriving Together, Perkuat Dukungan Kesehatan Mental Remaja di 34 Provinsi

Panggilannya ditemukan pada 1955. Ia bergabung dengan Ordo Jesuit (SJ) setelah menyelesaikan pendidikan di Jerman, dan ditahbiskan menjadi imam pada 1961.

Tahun 1967, ia datang ke Indonesia sebagai misionaris muda. Dan di sinilah kisah cinta itu dimulai. Ia jatuh cinta pada budaya lokal, belajar bahasa Jawa di Girisonta, Jawa Tengah, dan akhirnya ditahbiskan menjadi Romo di Yogyakarta.

Menabur Pemikiran, Menyuarakan Nurani

1969: Bersama para sahabat, ia mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Kini, STF Driyarkara menjadi mercusuar studi filsafat di Indonesia.

1977: Ia memilih menjadi Warga Negara Indonesia seutuhnya. Nama “Suseno” ia tambahkan sebagai tanda cinta pada tanah Jawa.

Persija Jakarta Menang Lagi, Gasak Persik Kediri 2-1 di JIS

1981: Lahirlah “Etika Jawa”, buku mahakarya yang membedah nilai, keteraturan, dan keselarasan hidup masyarakat Jawa. Buku ini jadi rujukan lintas generasi.

Di era Orde Baru yang penuh tekanan, suaranya tak pernah padam. Melalui mimbar akademik dan tulisan di media massa, ia konsisten menyuarakan keadilan sosial, HAM, dan demokrasi.

Ia juga menjadi jembatan dialog antar umat beragama. Persahabatannya dengan Gus Dur dan Nurcholish Madjid (Cak Nur) menjadi bukti bahwa perbedaan bisa dirajut dalam persaudaraan.

Atas pengabdiannya, pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama pada 2015, penghargaan tertinggi bagi warga negara yang berjasa besar bagi bangsa.

90 Tahun, Suara Itu Masih Hidup

SUARA, Kotak Curhat Peer Educator SMA 12 Jakarta

Kini, menjelang usia 90 tahun, Romo Magnis tetap menulis, mengajar, dan berbicara.

 Ia tak mencari panggung. Ia hanya setia menjadi “kompas moral” bagi siapa saja yang mencari arah di tengah bisingnya zaman.

Hidupnya adalah bukti: “Pemikiran yang jujur, iman yang membumi, dan cinta pada Indonesia, bisa menyala selama seumur hidup.”

Selamat 90 tahun Romo Magnis.Terima kasih telah menjadi “Magnis untuk Indonesia.” Berkah Dalem ✝️ (***)

Bagikan Artikel

VistaTekno






VistaOto






Berita Populer

01

75 Tahun Seminari Stella Maris Bogor: Alumni Gelar Reuni Lintas Angkatan di Yogyakarta

02

SSB Kemayoran 17 FC dan SSB Garecs Juara U-9 dan U-11 di EYSC 2025

03

Film Unfaithful 2: Richard Gere dan Diane Lane, Perselingkuhan Lama Bersemi Kembali

04

Tante Sonya Tak Sekadar Kisah Romansa, WeTV Bidik Penonton Global

05

Esporto Youth Soccer Championship 2025 Diikuti 10 Tim SSB di Jakarta

06

Ramon Tanque Ingin Cetak Gol Pertama ke Gawang Dewa United

07

SilverStream Solusi Cepat untuk Perawatan dan Penyembuhan Luka

08

Paviliun Raden Saleh Hadir Sebagai Hotel di Kawasan TIM Cikini

09

Pameran SIAL Interfood 2025 di JIExpo Kemayoran, Ini Rangkaian Acara Menariknya 

Pilihan Editor