JAKARTA, VISTA.CO.ID – Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata internasional, tetapi juga mulai mendapat perhatian sebagai lokasi produksi film berskala besar. Potensi tersebut diperlihatkan melalui The Ghost and the Gun, film drama aksi-sejarah produksi Viking Sunset Studios yang memadukan talenta internasional dengan kemampuan kru profesional Indonesia.
Film yang juga dikenal sebagai Peluru Senja ini mengambil latar Malaya pada 1948, tetapi seluruh proses produksi dan pengambilan gambarnya dilakukan di Bali. Melalui pembangunan set perkampungan dan kamp pertahanan era 1940-an, tim produksi berupaya menghadirkan suasana sejarah yang mendukung jalan cerita.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam penggarapan film yang disutradarai Anshul Tiwari dengan naskah Abhi Kumar. Tim Indonesia terlibat dalam berbagai sektor teknis, termasuk kamera, pencahayaan, dan tata suara, sehingga produksi ini turut memberikan ruang bagi tenaga kreatif lokal untuk bekerja dalam proyek dengan standar internasional.
Asisten Sutradara Richo Dharma menilai keberhasilan membangun atmosfer sejarah dalam film tersebut tidak terlepas dari koordinasi dan sinergi antara tim kreatif dari berbagai latar belakang.
“Tantangan merekonstruksi suasana Malaya tahun 1948 di Bali bisa terwujud dengan sangat presisi karena solidnya kerja sama antara tim kreatif internasional dan keahlian kru teknis Indonesia yang luar biasa,” kata Richo.
Keterlibatan talenta lokal juga terlihat melalui kehadiran aktor Indonesia, termasuk Hazman Al Idrus sebagai pemeran utama dan Asmara Abigail yang memerankan karakter Siti. Kehadiran mereka memperkuat unsur lokal dalam sebuah cerita berlatar sejarah kawasan Asia Tenggara.
Yoga Gunatika, salah satu talenta lokal yang terlibat, menilai kolaborasi lintas negara membuka kesempatan bagi pekerja film Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam produksi berskala global.
“Keterlibatan aktif para kreator dan aktor Indonesia di film ini membuktikan bahwa kualitas serta kedalaman rasa dari talenta kita sangat diperhitungkan di kancah sinema global,” ungkap Yoga.
Sementara itu, CEO sekaligus Executive Producer Viking Sunset Studios, Bo Holmgreen, menegaskan bahwa pengembangan fasilitas produksi di Bali merupakan bagian dari visi perusahaan untuk mendukung kebutuhan sineas lokal maupun internasional.
“Lewat The Ghost and the Gun, kami tidak hanya ingin menyajikan kisah sejarah yang emosional, tetapi juga ingin mengenalkan kepada dunia bahwa di Bali kini telah berdiri studio film berskala besar dan berfasilitas lengkap yang siap menjadi hub produksi bagi sineas global maupun lokal,” ujar Bo.
Sebelum menggarap The Ghost and the Gun, Viking Sunset Studios meraih penghargaan di festival film internasional di Los Angeles, Amerika Serikat, melalui film debutnya, Bandit. Film terbarunya ini menjadi karya layar lebar kedua studio tersebut sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan kapasitas produksi film di Bali kepada industri yang lebih luas.
Di sisi cerita, The Ghost and the Gun menghadirkan kisah dua veteran Perang Dunia II yang terjebak di belakang garis musuh. Konflik tersebut dikembangkan melalui pendekatan drama berbasis karakter yang menyoroti trauma, kehilangan, dan dampak perang terhadap kehidupan manusia.
Film ini dijadwalkan tayang di jaringan bioskop CGV Indonesia mulai 23 Oktober 2026, setelah pemutaran perdana eksklusif di Pacific Place Mall, Jakarta. Kehadirannya diharapkan dapat menarik perhatian penonton sekaligus memperlihatkan bagaimana kolaborasi internasional dapat membuka peluang bagi tenaga kreatif Indonesia untuk terlibat dalam produksi film yang menjangkau pasar lebih luas. (*/san)
