KABUPATEN PANDEGLANG, VISTA.CO.ID – Pencarian delapan orang yang hilang kontak setelah berada di dalam speed boat di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, memasuki hari kedua. Di tengah upaya pencarian, Tim SAR Gabungan juga menghadapi kondisi Gunung Anak Krakatau yang terpantau mengeluarkan material debu vulkanik cukup tebal.
Kondisi tersebut terpantau ketika SRU 1 menggunakan KN SAR Tetuka 247 melakukan penyisiran berdasarkan titik koordinat SAR Map pada pukul 13.31 WIB.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, memastikan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian tim dalam pelaksanaan operasi. Meski demikian, pencarian tetap dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Kami juga memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Saat terlihat adanya material debu vulkanik yang cukup tebal, kami tetap mempertimbangkan faktor keselamatan bagi seluruh personel. Pencarian akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan,” kata Al Amrad.
Untuk mempercepat proses pencarian, Tim SAR Gabungan membagi operasi menjadi tujuh SRU yang disebar di sejumlah sektor.
KN SAR Tetuka 247 dan KAL Anyer melakukan penyisiran di Sektor 2 dengan jarak masing-masing 68,3 NM dan 69,5 NM. Sementara RIB 02 dan RIB 03 Lampung menyisir Sektor 1 dengan total jarak 67 NM.
Penyisiran Sektor 1 dilakukan dengan memantau kawasan Pulau Sebesi, Pulau Sebuku hingga sekitar Krakatau. RIB 02 Banten juga melakukan pencarian di sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Di sektor lainnya, KP Sanjaya menyisir area sejauh 67,3 NM. Pencarian juga diperkuat KRI Leuser dan KRI Lepu yang bergerak sesuai sektor pencarian masing-masing.
Namun, sejumlah penyisiran dan pemantauan visual di sekitar Gunung Anak Krakatau serta Rakata Besar belum membuahkan hasil. Hingga pukul 15.22 WIB, SRU 5 yang menggunakan KP Sanjaya masih menyisir berdasarkan titik koordinat SAR Map dan belum menemukan tanda-tanda keberadaan delapan orang tersebut.
Delapan orang yang dicari terdiri atas Warta (55), kapten kapal; Surakman (60), ABK; Heriyanto (49), guide; serta lima jurnalis, yaitu M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal, jurnalis freelance.
Al Amrad mengatakan pencarian dilakukan secara maksimal dengan memanfaatkan berbagai unsur dan sarana yang tersedia.
“Hari kedua ini kami memperluas area pencarian dengan membagi tim menjadi beberapa SRU di sejumlah sektor. Seluruh sarana dan unsur yang terlibat kami optimalkan untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian,” ujarnya.
Operasi tersebut melibatkan Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten dan Lampung, USS Pandeglang, USS Merak, TNI, Polri, BPBD, KSOP, potensi SAR, media, keluarga korban, nelayan, serta masyarakat.
Adapun sarana yang digunakan meliputi KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, KP Sanjaya, KRI Lepu, KRI Leuser, RIB 02 Banten, RIB 02 dan RIB 03 Lampung, drone thermal, serta berbagai peralatan SAR air, medis dan komunikasi.
Di wilayah pencarian, cuaca terpantau cerah berawan dengan angin dari selatan menuju utara sekitar 14 knot. Tinggi gelombang berada pada kisaran 0,4 hingga 1 meter.
Hingga akhir Operasi SAR H2, delapan orang tersebut masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan. Tim SAR Gabungan akan terus mengevaluasi perkembangan operasi untuk menentukan strategi pencarian berikutnya.
“Sampai saat ini hasil pencarian masih nihil. Kami tidak berhenti melakukan upaya pencarian. Setiap perkembangan di lapangan akan terus kami evaluasi untuk menentukan strategi berikutnya. Kami berharap delapan orang yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan,” pungkas Al Amrad. (*/san)
