JAKARTA, VISTA.CO.ID – Periode promo belanja 12.12 menjadi peluang bagi brand lokal untuk meningkatkan penjualan sekaligus menjangkau konsumen baru. Namun, tanpa persiapan yang matang, lonjakan transaksi berisiko menimbulkan persoalan baru, mulai dari margin keuntungan yang menipis hingga kendala pengiriman dan rendahnya pembelian ulang.
Dalam whitepaper Megasale Playbook, Fynd merangkum lima hal yang perlu dipersiapkan pelaku bisnis agar kampanye belanja besar tidak hanya menghasilkan kenaikan omzet, tetapi juga menciptakan nilai jangka panjang.
Pertama, menghitung keuntungan setiap pesanan. Penjualan yang tinggi tidak selalu berarti laba yang besar. Brand perlu memperhitungkan diskon, komisi platform, biaya iklan, ongkos logistik, dan potensi retur. Dengan mengetahui keuntungan bersih pada tingkat pesanan, pelaku bisnis dapat menentukan batas minimum kontribusi sebelum menetapkan promosi.
Kedua, memastikan kesiapan stok dan operasional. Ketidaksesuaian data persediaan antara toko fisik dan kanal daring dapat membuat produk terlihat habis meski stok masih tersedia. Sebaliknya, penjualan yang melampaui persediaan berpotensi memicu pembatalan pesanan dan berdampak pada pengalaman pelanggan. Fynd menyarankan integrasi stok dari berbagai kanal agar informasi persediaan lebih akurat.
Masalah ini menjadi perhatian tersendiri bagi kategori fesyen yang menghadapi risiko retur akibat ukuran yang tidak sesuai. Kesiapan inventaris, informasi ukuran yang jelas, dan proses pemenuhan pesanan yang terkoordinasi dapat membantu menekan potensi kendala saat trafik meningkat.
Ketiga, membangun hubungan langsung dengan pelanggan. Transaksi di marketplace tidak otomatis membuat brand memiliki hubungan jangka panjang dengan pembelinya. Karena itu, brand dapat menyediakan layanan tambahan, seperti pendaftaran garansi atau layanan tukar ukuran, untuk memudahkan konsumen terhubung melalui kanal resmi. Strategi tersebut tetap perlu mengikuti kebijakan platform dan ketentuan perlindungan data pribadi.
Keempat, mengoptimalkan marketplace dan kanal penjualan sendiri. Marketplace berperan dalam memperluas jangkauan produk dan menjaring pembeli baru. Sementara itu, situs resmi dan program loyalitas dapat membantu brand membangun hubungan berulang dengan pelanggan. Kombinasi keduanya dinilai dapat memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengelola strategi penjualan.
Fynd mencontohkan bahwa pengembangan ekosistem pelanggan melalui aplikasi dan toko fisik dapat menjadi bagian dari strategi omnichannel. Salah satu contoh yang disebut dalam materi perusahaan adalah Sociolla, yang mengembangkan aplikasi SOCO serta jaringan toko fisik untuk mendukung pengalaman pelanggan di berbagai kanal.
Kelima, memanfaatkan 45 hari setelah promo 12.12. Periode setelah kampanye dinilai penting untuk mengevaluasi apakah pembeli baru kembali bertransaksi atau hanya berbelanja ketika diskon tersedia. Brand dapat memisahkan kelompok pelanggan berdasarkan perilaku belanja, memperbaiki layanan purnajual, dan menawarkan produk dengan harga normal secara lebih terarah.
Chief Business Officer Global Fynd, Ronak Modi, mengatakan keberhasilan promosi sangat bergantung pada kemampuan brand mengelola proses operasional setelah permintaan meningkat.
“Promo bisa mendatangkan volume, tetapi yang menentukan apakah volume tersebut menjadi nilai jangka panjang adalah bagaimana brand mengelola stok, pengiriman, dan hubungan dengan pelanggan,” ujar Ronak.
Untuk membantu mengintegrasikan proses tersebut, Fynd menyediakan platform AI-native omnichannel commerce yang menyatukan pengelolaan inventaris secara real-time, data pelanggan, dan pemrosesan pesanan dari berbagai kanal.
Melalui lima strategi tersebut, brand diharapkan dapat menjadikan Harbolnas sebagai momentum pertumbuhan bisnis yang lebih terukur. Keberhasilan kampanye tidak hanya dilihat dari besarnya transaksi selama periode diskon, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan margin keuntungan, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan mendorong pembelian berulang setelah promo berakhir. (*/San)
