JAKARTA, VISTA.CO.ID – Pameran lukisan perdana karya Gatot ‘Ganyut’ Prahiyanto yang bertajuk Contemplature yang sudah berlangsung di STR Art Gallery, 18 September – 2 Oktober 2026 telah berakhir. Ada 21 karya lukisan yang dipajang diruang pameran yang terletak di Jalan Ampera, Jakarta Selatan.
Pameran yang dibuka oleh Oppie Andaresta (Penyanyi) dihadiri oleh Sri Teddy Rusdy pemilik STR Art Gallery, Brandon Cahyadhuha Rusdy Direktur STR Art Gallery, Kolektor Lukisan, dan Komunitas Potlot.
Menurut Oppie, semua lukisan karya Ganyut ini merupakan bagian dari pencarian dirinya sebagai ruang untuk mencari penawar atas berbagai kegundahan dan kegelisahan yang berkecamuk dalam dirinya.
Dalam proses pencariannya dia mengalami banyak hal. Ada masa yang terang, gelap. Ada jatuh bangun, kegembiraan, ada pacaran, bubar, sakit hati, terbang tinggi, terpuruk dan banyak lagi. Tapi banyak teman yang tetap hadir dan menjadi support sistemnya sampai hari ini.

Dan mungkin kontemplasi mengajarkan dia untuk memahami apa yang dirasakan.
Kalau dulu dia menangkap dunia dengan kamera, sekarang Mengolahnya dan mengekpresikannya lewat kuas dan kanvas.
“Inspirasi itu dia rekam dalam media fotografi dan video, terus diwujudkan dalam bentuk cetakan foto, video pendek serta lukisan ekspresionisme dan abstrak,” jelas Oppie.
Bicara soal lukisan, Ganyut mengawalinya saat kegelisahannya dengan dunia digital yang merambah fotografi dan video yang semakin membuat mudah pengerjaan, tapi merusak ‘harga’ untuk pekerjaan itu.
Gaya ekspresionisme dan abstrak menjadi pilihannya karena pas untuk mengeluarkan masalah dan kegalauan pada dirinya yang bisa dengan bebas digoreskan pada sebidang kanvas.
“Saya merasa nyaman saat melukis, karena segala uneg-uneg dan beban bisa dituangkan diatas kanvas, saat di fotografi tidak semua foto bisa mengekspresikan keinginan,” ucap Ganyut yang pernah kuliah di Jurusan Fotografi, FFTV-IKJ 1992.

Selain dari kegelisahan, Ganyut juga mendapatkan ide melukisnya dari hasil foto dan video perjalanan ke beberapa daerah di Indonesia yang pernah dikunjunginya.
Berawal dari situ, pada tahun 2019 Ganyut memutuskan untuk belajar melukis secara privat dengan seorang dosen ISI selama 6 bulan di Yogyakarta. Selain itu dia juga berburu ilmu melukis dari beberapa mentor, salah satunya pelukis perempuan, NanaTedja.
Ganyut sebenarnya pernah merencanakan pameran lukisan tunggal pada tahun 2023 dengan memajang 15 karya lukisan di sebuah galeri yang ada di Jakarta, tapi tertunda dan baru bisa diwujudkan pada September 2026.
Pameran lukisan yang berlangsung di STR Art Gallery, karya Ganyut mendapat apresiasi tinggi dan telah menjadi koleksi dari beberapa kolektor lukisan.
Ada enam karya dengan judul Singgasana, For You, Down to Earth, Let it Flow, Romansa dan Karat Senja yang jadi milik kolektor.
Contemplature yang menjadi tajuk pameran lukisan ini, merupakan akronim dari kata Contemplation dan Nature, atau secara harfiah bermakna kontemplasi di alam.
Namun, setelah melalui proses perenungan lebih lanjut, Ganyut menyadari bahwa pengalaman berkontemplasi di alam memiliki sisi rasa yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap oleh fotografi. Karena itu, ia kemudian mentransformasikan pengalaman tersebut ke dalam bahasa seni lukis dan instalasi patung.
Transformasi tersebut menghasilkan karya-karya abstrak yang mengandalkan insting dan intuisi tubuh. Setiap goresan dan gerakan tangan ketika mengoleskan cat akrilik maupun minyak pada kanvas menjadi tumpahan ekspresi dari apa yang sedang dia rasakan.
Contemplature, itulah 21 karya lukisan yang sudah dipamerkan dan sekarang sebagian karya itu menjadi milik kolektor lukisan. (May)
