JAKARTA, VISTA. CO.ID – Sebuah resep sering kali menyimpan lebih dari sekadar takaran bahan dan langkah memasak. Di baliknya bisa terdapat kenangan, kebiasaan keluarga, pengalaman profesional, hingga cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Semangat tersebut menjadi salah satu bagian dari buku Peracik Rasa: 80 Resep Pilihan 8 Peracik Galeri Rasa, yang diluncurkan Galeri Rasa pada 3 Oktober 2026 di Aprez Cafe, SCBD, Jakarta.
Buku ini menghadirkan 80 resep dari delapan peracik, yakni Stefu Santoso, Brian Wicaksono, Eddrian Tjhia, Sisca Soewitomo, Yanto Ganjar, Eddy Siswanto, Thomas Law, dan Firhan Ashari.
Penyusun sekaligus penulis buku, Hanny Vicenza, menilai keberagaman menjadi nilai penting dalam Peracik Rasa. Masing-masing peracik hadir dengan pengalaman dan perspektif yang berbeda sehingga menghasilkan karakter rasa yang beragam dalam satu buku.
Hanny juga ingin menunjukkan bahwa eksplorasi kuliner bisa dimulai dari siapa saja. Tidak harus selalu dari dapur profesional, tetapi juga dari rumah, keluarga, maupun pengalaman sehari-hari ketika seseorang berinteraksi dengan makanan.
Karena itu, Peracik Rasa tidak hanya ditujukan kepada orang yang sudah mahir memasak. Buku ini juga diharapkan dapat dinikmati oleh para food enthusiast, home cook, keluarga, serta generasi muda yang sedang mulai mengenal dunia kuliner.
Salah satu cerita yang memberi sentuhan personal datang dari Brian Wicaksono. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah resep yang dimuat dalam buku memiliki hubungan dengan keluarganya, termasuk resep dari sang nenek.
Menurut Brian, pengalaman tersebut membuat buku Peracik Rasa terasa seperti sebuah ruang untuk menyimpan sesuatu yang bernilai secara personal.
“Semacam ada wadah untuk menampung mimpi-mimpi saya, salah satunya memang mengabadikan resep dari nenek saya,” ungkap Brian.
Baginya, sebuah karya dapat menjadi peninggalan yang mempertemukan pengalaman masa lalu dengan generasi berikutnya. Ia berharap apa yang dituangkan melalui buku tersebut dapat menjadi inspirasi, termasuk bagi anak-anaknya untuk membuat karya yang lebih jauh di masa depan.
“Kalau gajah mati meninggalkan gading, saya ingin meninggalkan karya seperti ini,” katanya.
Pesan mengenai warisan rasa tersebut menjadi salah satu benang merah yang membuat Peracik Rasa memiliki sisi yang lebih personal. Resep tidak hanya dipandang sebagai petunjuk memasak, tetapi juga sebagai bentuk dokumentasi pengalaman yang dapat terus dibaca dan dipelajari.
Galeri Rasa selama ini hadir melalui berbagai platform digital, seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook. Melalui buku ini, perjalanan tersebut diteruskan dalam bentuk karya fisik yang memungkinkan resep dan cerita para peracik disimpan lebih lama.
Dengan delapan peracik dan 80 resep, Peracik Rasa menjadi ruang pertemuan berbagai gaya, pengalaman, dan cerita kuliner dalam satu karya. Buku ini sekaligus mengingatkan bahwa sebuah rasa dapat memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya sampai ke meja makan. (*/san)
