JAKARTA, VISTA.CO.ID – Kesehatan fisik dan mental menjadi bagian penting dalam membangun tenaga kerja yang tangguh di tengah perubahan dunia kerja. Kesadaran menjaga kesehatan sejak dini dinilai perlu diperkuat agar karyawan mampu mempertahankan kualitas hidup sekaligus produktivitas dalam jangka panjang.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam perayaan 35 tahun kehadiran Zurich Indonesia. Melalui pertemuan para pakar di bidang penelitian, layanan kesehatan, dan teknologi kesehatan, Zurich mengangkat pentingnya membangun workforce resilience atau ketahanan tenaga kerja.
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Profesor Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, DTM&H, DTCE, FISR, mengatakan ketahanan diri perlu dibangun melalui kebiasaan menjaga kesehatan, bukan hanya ketika seseorang sedang sakit.
“Ketahanan diri (resilience) perlu dibangun melalui kesadaran untuk menjaga kesehatan, bukan hanya ketika sakit, tetapi juga saat kondisi tubuh masih sehat. Hal ini dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menerapkan perilaku CERDIK,” ujarnya.
Perilaku CERDIK mencakup Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres. Menurut Tjandra, kebiasaan tersebut perlu didukung literasi kesehatan, lingkungan yang kondusif, serta akses layanan kesehatan yang bermutu.
Selain kesehatan fisik, perhatian terhadap kesehatan mental juga tidak kalah penting. Tekanan psikologis yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak terhadap kondisi tubuh, kesejahteraan, hingga kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
CEO dan Co-Founder Halodoc, Jonathan Sudharta, mengungkapkan bahwa konsultasi terkait gangguan kecemasan (anxiety) di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Kesehatan mental memiliki kaitan erat dengan kondisi fisik, bahkan tekanan psikologis yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak nyata bagi tubuh. Hal ini semakin relevan mengingat konsultasi terkait gangguan kecemasan (anxiety) di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2% dibandingkan dengan semester I 2025,” kata Jonathan.
Ia menambahkan, kepedulian terhadap kesehatan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari mengenali kondisi diri hingga mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan. Menjaga kesehatan, menurutnya, merupakan investasi untuk kualitas hidup yang lebih baik pada masa mendatang.
Di sisi lain, tantangan kesehatan jangka panjang juga menjadi perhatian dalam membangun ketahanan tenaga kerja. Meningkatnya angka harapan hidup membuat semakin banyak orang menjalani kehidupan lebih lama dengan kondisi kronis, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan penyakit tidak menular lainnya. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas serta biaya kesehatan yang harus ditanggung individu maupun perusahaan.
Sebagai bagian dari upaya mendorong lingkungan kerja yang lebih sehat, Zurich Indonesia memperkenalkan Corporate Wellbeing Awards 2026. Inisiatif ini ditujukan untuk mengapresiasi perusahaan yang menerapkan praktik pendukung kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan.
Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, menilai kesejahteraan karyawan perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Melalui kolaborasi antara perusahaan, penyedia layanan kesehatan, pembuat kebijakan, dan masyarakat, Zurich berharap upaya membangun tenaga kerja yang sehat dan resilien dapat semakin berkembang di Indonesia. Dengan dukungan yang tepat, karyawan diharapkan mampu menghadapi perubahan sekaligus berkontribusi terhadap pertumbuhan organisasi yang berkelanjutan. (*/san)
