SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement Advertisement
VistaTainment
Beranda » VistaTainment » Tak Cuma Hantu, Film Horor Indonesia Kini Eksplorasi Trauma hingga Ketakutan Psikologis

Tak Cuma Hantu, Film Horor Indonesia Kini Eksplorasi Trauma hingga Ketakutan Psikologis

foto dok. mul
foto dok. mul

JAKARTA, VISTA.CO.ID – Film horor Indonesia mengalami perkembangan dari sisi sumber ketakutan yang ditawarkan kepada penonton. Rasa takut tidak lagi selalu bergantung pada penampakan hantu, kerasukan atau makhluk gaib, tetapi juga dapat muncul melalui trauma, paranoia, rasa bersalah hingga ancaman kehancuran dunia.

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari diskusi “Sinkretisme dan Fenomena Film Horor Indonesia” dalam Festival Film Horor (FFHoror) IX di JTown Food & Entertainment Center, Jatinegara, Jakarta Timur, 28 September 2026.

Diskusi menghadirkan produser sekaligus penulis skenario Budi Sumarno dan sutradara Hasto Broto, dengan moderator jurnalis senior dan pengamat film Didang Prajasasmita.

Budi Sumarno menjelaskan, film horor modern dapat dibaca melalui sejumlah pendekatan. Ia menyebut apocalyptic horror, demonic horror dan psychological horror sebagai tiga bentuk yang memperlihatkan semakin luasnya sumber ketakutan dalam sinema.

Apocalyptic horror menghadirkan ancaman terhadap dunia atau peradaban. Sementara demonic horror berangkat dari sosok iblis, setan maupun kerasukan. Adapun psychological horror menempatkan kondisi psikologis manusia sebagai sumber ketakutan, termasuk trauma, paranoia dan rasa bersalah.

Tak Cuma Andalkan Teknik Vokal, Sheera Dalami Makna Lirik “Luka Terakhir”

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ketakutan dalam film tidak harus selalu divisualisasikan melalui makhluk menyeramkan. Situasi, ingatan, keyakinan bahkan pikiran manusia sendiri dapat menjadi sumber teror.

Meski demikian, Budi melihat identitas film horor Indonesia tetap memiliki hubungan kuat dengan keragaman budaya masyarakat. Mitos, tradisi, ritual, agama dan kepercayaan lokal dapat dipertemukan dengan kehidupan modern untuk menciptakan konflik baru.

“Setiap cerita horor punya ruang untuk membawa penonton kepada rasa ingin tahu. Siapa makhluk yang meneror, dari mana asalnya, apa penyebab teror dan bagaimana konflik itu berakhir,” demikian pandangan Budi dalam diskusi tersebut.

Hasto Broto melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari kebebasan sineas dalam mengeksplorasi genre. Menurutnya, sutradara harus tetap berkonsentrasi pada kualitas cerita dan eksekusi film.

“Siapa pun sutradaranya pasti ingin membuat film yang terbaik. Genre apa pun, eksekusinya harus bagus,” ujar Hasto.

Fany Sulf Raih Dream Ticket Usai Tunjukkan Kemampuan Dangdut dan R&B di Main Drama Casting**

Ia juga mengingatkan bahwa film memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar mengejar efek takut. Menurut Hasto, medium film dapat digunakan untuk menyampaikan berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan.

“Film adalah media yang luas. Ia bisa menakutkan, bisa menghibur, tetapi juga bisa menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, muncul pula persoalan mengenai bagaimana sineas mengadaptasi mitologi dan kepercayaan lokal. Penggunaan cerita rakyat dan ritual dalam film dapat membantu memperkenalkan kembali budaya kepada generasi baru, tetapi sekaligus berpotensi menggeser makna aslinya ketika masuk ke dalam kebutuhan dramatik sinema.

Ketua Dewan Juri FFHoror IX, Ncank Mail, menilai tidak ada ukuran tunggal untuk menentukan kualitas sebuah film. Perbedaan perspektif antara pembuat film dan penonton merupakan bagian dari proses apresiasi.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada formula yang secara otomatis menjamin sebuah film berhasil. Sineas perlu membaca perkembangan masyarakat dan pasar, sembari tetap memperhatikan kualitas cerita serta penggarapannya.

Jonas Rivanno dan Adinda Azani Semakin Romantis di Sinetron Cinta Seluas Samudra

Dari diskusi tersebut, horor Indonesia terlihat terus bergerak dari sekadar menghadirkan sosok gaib menuju eksplorasi ketakutan yang lebih luas. Ketakutan dapat bersumber dari mitologi, spiritualitas, kondisi sosial hingga sisi psikologis manusia. (*/san)

Bagikan Artikel

VistaTekno






VistaOto






Berita Populer

01

75 Tahun Seminari Stella Maris Bogor: Alumni Gelar Reuni Lintas Angkatan di Yogyakarta

02

SSB Kemayoran 17 FC dan SSB Garecs Juara U-9 dan U-11 di EYSC 2025

03

Film Unfaithful 2: Richard Gere dan Diane Lane, Perselingkuhan Lama Bersemi Kembali

04

Esporto Youth Soccer Championship 2025 Diikuti 10 Tim SSB di Jakarta

05

Tante Sonya Tak Sekadar Kisah Romansa, WeTV Bidik Penonton Global

06

Ramon Tanque Ingin Cetak Gol Pertama ke Gawang Dewa United

07

SilverStream Solusi Cepat untuk Perawatan dan Penyembuhan Luka

08

Komunitas SAMBAL Apresiasi Eco-Craft Display 2026, Perkuat Ekosistem Kreatif Berkelanjutan

09

Pameran SIAL Interfood 2025 di JIExpo Kemayoran, Ini Rangkaian Acara Menariknya 

Pilihan Editor