JAKARTA, VISTA.CO.ID – Kebiasaan menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau yang belakangan disebut sebagai fenomena “mantab” alias makan tabungan menjadi perhatian di tengah meningkatnya porsi konsumsi masyarakat.
Kondisi tersebut terlihat dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2026. Porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat menjadi 74,2 persen, dari sebelumnya 72,7 persen.
Di sisi lain, pendapatan yang disisihkan untuk tabungan turun dari 16,8 persen menjadi 15,8 persen. Adapun porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan atau utang berada di angka 10,0 persen, turun dari 10,5 persen.
Jika dihitung dari setiap Rp1 juta pendapatan, sekitar Rp742 ribu digunakan untuk konsumsi, Rp100 ribu untuk cicilan, dan hanya Rp158 ribu yang disisihkan untuk tabungan.
Data Perbanas turut menunjukkan adanya tekanan terhadap saldo masyarakat. Walaupun total simpanan dengan saldo di bawah Rp100 juta masih tumbuh, rata-rata saldo per rekening mengalami penurunan.
Rata-rata saldo rekening pada kelompok tersebut turun dari Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026 atau menyusut sekitar 45 persen.
Head of Investment & Insurance DANA Group Ivan Kusuma mengatakan, masyarakat perlu melihat kembali pola pengelolaan uang, terutama ketika dana untuk kebutuhan harian, keadaan darurat dan masa depan masih bercampur dalam satu tempat.
“Saldo yang terus berkurang bukan selalu karena terlalu banyak membeli kopi atau hiburan. Masalahnya sering kali muncul karena uang untuk kebutuhan hari ini, kebutuhan darurat, dan tujuan masa depan bercampur dalam satu tempat,” ungkap Ivan.
Menurutnya, salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah conscious spending. Konsep tersebut menekankan pentingnya menentukan tujuan penggunaan uang sebelum uang dibelanjakan.
“Conscious spending intinya adalah menentukan dulu untuk apa uang akan dipakai, sebelum uang itu dibelanjakan,” jelas Ivan.
Dalam praktiknya, masyarakat dapat memulai dengan memeriksa kembali transaksi sehari-hari. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali, seperti membeli makanan ringan, membayar parkir atau berlangganan aplikasi, dapat menjadi pengeluaran yang cukup besar apabila diakumulasikan.
Pencatatan dan pemantauan transaksi juga dapat membantu masyarakat mengetahui kebiasaan belanja sekaligus menentukan pos pengeluaran yang masih diperlukan.
Langkah berikutnya adalah membuat alokasi berdasarkan prioritas. Uang dapat dipisahkan sesuai tujuan, misalnya untuk kebutuhan harian, dana darurat, tabungan impian maupun investasi.
Di ekosistem DANA, pengguna dapat memanfaatkan sejumlah fitur untuk membantu mengatur tujuan finansial, seperti DANA Goals, DANA eMAS dan DANA+ sesuai kebutuhan dan ketentuan masing-masing layanan.
Ivan mengingatkan bahwa tidak ada satu metode penganggaran yang dapat diterapkan kepada seluruh masyarakat.
“Tidak ada satu cara budgeting yang cocok untuk semua orang, karena kebutuhan dan tujuan tiap orang berbeda,” katanya.
Selain membuat anggaran, masyarakat juga dapat memberikan jeda sebelum melakukan pembelian yang tidak mendesak. Prinsip “pause, bukan pantang” dapat menjadi cara sederhana untuk mengurangi pembelian impulsif tanpa harus sepenuhnya melarang diri menikmati sesuatu.
Sementara itu, cicilan dapat digunakan secara terukur selama disesuaikan dengan kemampuan finansial. Dengan perencanaan yang tepat, cicilan dapat menjadi salah satu cara mengatur arus pengeluaran.
“Yang penting, kemudahan bayar digital perlu diimbangi dengan kesadaran finansial supaya kita tidak jadi lebih impulsif,” ujar Ivan.
Di tengah meningkatnya porsi konsumsi, masyarakat perlu semakin cermat dalam menentukan prioritas. Menabung tidak harus selalu dimulai dengan nominal besar, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan mengalokasikan dana secara konsisten.
Dengan perencanaan yang lebih sadar, kebutuhan hari ini tetap dapat dipenuhi tanpa membuat tabungan untuk kebutuhan masa depan terus terkuras. (*/san)
