KOTA TANGERANG, VISTA.CO.ID – Mengajarkan ilmu pengetahuan kepada generasi muda tidak selalu harus melalui buku teks. Pendekatan kontekstual dengan memanfaatkan kearifan lokal justru mampu membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Hal inilah yang dilakukan tim dosen DIII Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Banten saat melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat di SMP IT Indra Bangsa Al Mubarok.
Mengusung tema “Edukasi Pemanfaatan Produk Fermentasi Lokal sebagai Sumber Probiotik Alami Pencegah Penyakit Infeksi”, kegiatan ini memperkenalkan konsep bakteri baik, probiotik, fermentasi, serta kesehatan melalui tempoyak sebagai salah satu produk fermentasi lokal Indonesia.

Program dirancang menggunakan pendekatan pembelajaran aktif yang melibatkan pre-test, penyampaian materi interaktif, pemutaran video edukasi, pembagian leaflet dan LKPD, praktik membuat tempoyak, observasi proses fermentasi selama tiga hari, hingga pengenalan pemeriksaan mikroskopis sebagai bagian dari pembelajaran laboratorium.
Ketua pelaksana Maya Sari menilai bahwa pembelajaran berbasis pengalaman akan lebih mudah dipahami siswa karena mereka melihat secara langsung proses ilmiah yang terjadi.
“Kami ingin mengenalkan kepada siswa bahwa bakteri tidak selalu identik dengan penyakit. Melalui tempoyak sebagai produk fermentasi lokal, siswa dapat belajar secara langsung tentang fermentasi, bakteri yang bermanfaat, dan konsep probiotik dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” jelas Maya.

Pendekatan tersebut memberikan hasil yang positif. Evaluasi menunjukkan nilai rata-rata siswa meningkat dari 67,75 menjadi 83,50. Sebanyak 65 persen peserta mengalami peningkatan hasil belajar setelah mengikuti seluruh rangkaian edukasi.
Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa integrasi antara sains, kesehatan, dan budaya lokal mampu memperkuat pemahaman siswa sekaligus meningkatkan minat belajar terhadap ilmu pengetahuan.
Sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan program, tim dosen juga menyerahkan Paket Sistem Praktikum kepada sekolah agar guru dapat melanjutkan pembelajaran berbasis eksperimen setelah kegiatan selesai.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada saat pengabdian selesai. Paket Sistem yang diberikan kepada sekolah diharapkan dapat terus dimanfaatkan guru dan siswa untuk melakukan pembelajaran berbasis praktikum secara mandiri,” ujar Maya.
Kepala SMP IT Indra Bangsa Al Mubarok, Muhammad Fahmi, menilai sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah merupakan investasi penting dalam membangun kualitas pendidikan.
“Alhamdulillah, kami sangat mengapresiasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Poltekkes di sekolah kami. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang menarik sekaligus meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa terkait kesehatan. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi bentuk kolaborasi yang baik antara pihak sekolah dan perguruan tinggi,” katanya.

Lebih dari sekadar mengenalkan tempoyak sebagai produk fermentasi, kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan, kesehatan, dan pelestarian pangan lokal dapat berjalan beriringan. Melalui praktik sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual sekaligus membangun kebiasaan berpikir ilmiah yang akan menjadi bekal penting di masa depan. (*/san)
