JAKARTA, VISTA.CO.ID – Film Istimewa – garapan rumah produksi Kairos Picutures – membawa pesan tentang keluarga, penerimaan, dan kesempatan untuk menjadi diri sendiri.
Film karya sutradara Ruben Adrian dan diproduseri Abdullah Mansuri itu, akan tayang serentak di layar bioskop Indonesia pada 17 September 2026.
Sutradara Ruben Adrian mengatakan, sejak awal dirinya ingin menghadirkan karakter dalam film Istimewa sebagai manusia yang memiliki kehidupan dan kepribadian secara utuh, bukan sekadar direpresentasikan berdasarkan kondisi yang dimiliki.
โKami tidak ingin membuat karakter yang hanya menjelaskan kondisinya. Kami ingin mereka hadir sebagai manusia yang punya keinginan, pilihan, humor, mimpi, dan perjalanan sendiri,โ ujarnya saat jumpa pers gala premiere di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026).
Ruben menambahkan, pendekatan tersebut tidak hanya diterapkan dalam penulisan cerita. Para pemain juga diberikan ruang selama proses produksi untuk membawa karakter masing-masing sesuai dengan cara mereka.
Pesan mengenai penerimaan juga menjadi salah satu hal yang disuarakan para pemain. Niatus Sholihah, pemeran Nita, menilai penerimaan seharusnya tidak diwujudkan melalui rasa kasihan maupun perlakuan berbeda.
โBuat saya, diterima bukan berarti orang lain merasa kasihan atau memperlakukan kita secara berbeda. Diterima adalah ketika kita diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa diri kita, dipercaya untuk mengambil pilihan, dan tidak dinilai hanya dari kondisi yang kita miliki,โ katanya.
Niatus menambahkan, setiap orang memiliki mimpi, kemampuan, perasaan, serta keinginan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Pandangan serupa disampaikan Abdullah Mansuri atau Ayah Mans. Bagi dirinya, gala premiere menjadi salah satu tahapan dari perjalanan panjang bersama teman-teman Istimewa hingga kisah mereka akhirnya diangkat ke layar lebar.
โSaya ingin mereka punya ruang untuk bercerita dengan cara mereka sendiri. Selama perjalanan bersama mereka, saya melihat begitu banyak cerita, mimpi, keberanian, dan kemampuan yang mungkin belum banyak orang lihat,โ ujarnya.
Ayah Mans pun berharap cerita tersebut dapat menjangkau lebih banyak penonton sehingga masyarakat dapat mengenal teman-teman dengan disabilitas bukan semata-mata berdasarkan kondisi mereka.
โDari situlah saya merasa cerita ini harus dibawa lebih jauh, supaya lebih banyak orang bisa mengenal mereka bukan dari kondisinya, tapi dari siapa mereka sebenarnya,โ lanjutnya.
Melalui Istimewa, pembuat film ingin memperluas pembicaraan mengenai penerimaan dan kesempatan. Film ini tidak ingin berhenti sebagai cerita tentang anak-anak dengan disabilitas, melainkan menjadi refleksi mengenai cara masyarakat memandang dan memberikan ruang kepada orang lain.
Istilah โIstimewaโ yang digunakan dalam film juga tidak dimaksudkan untuk menggantikan istilah disabilitas. Kata tersebut lebih merupakan sebuah cara pandang bahwa kondisi seseorang bukan satu-satunya hal yang menentukan identitas dirinya.
Di balik kondisi yang melekat pada seseorang, terdapat pribadi, mimpi, kemampuan, pilihan, perasaan, dan pengalaman yang turut membentuk kehidupannya.
Melalui penayangan film ini, para pemain dan filmmaker berharap Istimewa dapat membuka percakapan yang lebih luas mengenai penerimaan serta pentingnya memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada teman-teman dengan disabilitas.
Film Istimewa melibatkan aktor dan aktris senior dan muda seperti, Mathias Muchus, Agus Kuncoro, Ajil Ditto, Yanni Melwani, Bambang Ceper, Niatus Sholihah, Salsabila Bella, Zulfadli Aldiansyah, Rein Maxime Mustofa, Ence Bagus, dan Komo Ricky. (Ign)
