JAKARTA, VISTA.CO.ID – Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia menggelar forum Health Corner bertajuk “Gizi Lengkap, Anak Tinggi & Cepat Tanggap” sebagai ajang edukasi tentang pentingnya pemenuhan gizi lengkap dan seimbang pada anak.
Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Ray Wagiu Basrowi, mengatkan bahwa tantangan pemenuhan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan kuantitas asupan, tetapi juga kualitas serta kelengkapan nutrisinya.
“Banyak orang tua merasa anak sudah cukup makan. Namun, kenyang belum tentu lengkap,” katanya dalam keterangan persnya, Selasa (17/2/2026).
Dijelaskannya, Anak membutuhkan kombinasi protein berkualitas, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, Omega-3, serta vitamin dan mineral untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitifnya.
“Nutrisi tersebut bekerja secara sinergis, sehingga keseimbangan menjadi sangat penting,” ujar Ray.
Ia menambahkan, dukungan dari asupan padat gizi seperti susu fortifikasi yang mengandung protein, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, dan Omega-3 dapat membantu melengkapi kebutuhan harian anak sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Hasil riset Danone Indonesia bersama Indonesia Nutrition Association (INA) menunjukkan, jumlah anak yang mengkonsumsi susu terfortifikasi zat besi, delapan kali lebih banyak anak yang tercukupi kebutuhan zat besinya dan anak dengan cukup zat besi terbukti 20 persen lebih tinggi.
Pada usia dini, kebutuhan nutrien anak meningkat pesat, sementara kapasitas konsumsi makanannya masih relatif terbatas.
Oleh karena itu, Ray mengingatkan, pemilihan makanan yang padat gizi (nutrient-dense foods), termasuk susu fortifikasi, menjadi langkah strategis dalam mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi harian anak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang dan beragam.
Sementara survei terbaru Detik.com pada ribuan ibu menunjukkan bahwa 69 persen orang tua menyatakan tantangan terbesar dalam memenuhi kebutuhan gizi anak adalah anak yang pilih-pilih makanan.
Menurut Dokter Spesialis Gizi, Juwalita Surapsari, orang tua memegang peran sentral dalam menentukan jenis makanan yang dikonsumsi anak, waktu pemberian makan, serta pola makan yang diterapkan di rumah.
“Namun, anak sendiri yang menentukan seberapa banyak ia akan makan. Oleh sebab itu, dalam proses pemberian makan, tidak boleh ada unsur pemaksaan,” kata Juwalita yang juga sebagai pembicara dalam sesi diskusi.
Ia menekankan pentingnya stimulasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses tumbuh kembang anak. Stimulasi dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana seperti mengajak anak berbicara, membacakan buku, maupun bermain bersama.
Pada periode emas pertumbuhan anak usia 1–5 tahun, terdapat kebutuhan nutrien makro dan mikro yang harus terpenuhi secara seimbang.
Beberapa mikronutrien penting yang dibutuhkan anak pada tahap usia tersebut antara lain zat besi, vitamin A, vitamin D, zinc, serta DHA yang berperan penting dalam mendukung perkembangan otak.
Dhea Ananda, Ibu sekaligus Figur Publik, yang hadir di forum memahami bahwa memenuhi kebutuhan nutrisi anak secara menyeluruh tidak cukup hanya dari karbohidrat, protein, dan serat.
“Vitamin dan mineral justru memiliki peran penting dan sering kali lebih menantang untuk dipenuhi setiap hari,” katanya. (*/Ign)
