JAKARTA, VISTA.CO.ID – Tiga tahun perjalanan Smart Fertility Clinic (SFC) menjadi momentum untuk merayakan ribuan pasangan yang telah menjalani perjalanan mendapatkan buah hati. Mengusung tema “3 Years of Hope”, SFC mencatat telah mendampingi lebih dari 3.500 pasangan sekaligus memperluas akses layanan fertilitas dengan membuka cabang kelima di Kelapa Gading, Jakarta.
Perayaan tiga tahun SFC digelar pada 5 September 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi peringatan perjalanan klinik, tetapi juga mempertemukan pasangan dari berbagai tahapan program kehamilan, mulai dari mereka yang masih mencari jawaban, tengah menjalani treatment, hingga yang telah berhasil mendapatkan kehamilan dan dikaruniai buah hati.
Dr. dr. Ni Made Desy Suratih, Sp.OG, Subsp. FER, MM, mengatakan keberagaman cerita tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan SFC selama tiga tahun.
“Bagi kami, tiga tahun Smart Fertility Clinic yang paling berarti adalah melihat berbagai cerita pasangan yang datang dengan harapan masing-masing. Ada yang masih dalam tahap mencari jawaban, ada yang sedang menjalani treatment, dan ada juga yang hari ini sudah datang membawa cerita keberhasilan mereka,” ujar dr. Ni Made Desy.
Menurutnya, perayaan “3 Years of Hope” sengaja dirancang sebagai ruang pertemuan bagi pasangan dengan berbagai tahapan perjalanan fertilitas. Kehadiran pasangan yang telah berhasil diharapkan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada mereka yang masih menjalani proses.
“Kami ingin perayaan ini menjadi ruang yang mempertemukan semua perjalanan tersebut. Pasangan yang masih berjuang bisa melihat bahwa mereka tidak sendiri. Sementara pasangan yang sudah berhasil juga dapat berbagi cerita dan semangat kepada mereka yang masih dalam proses,” lanjutnya.
Selain membahas aspek medis, rangkaian kegiatan juga menghadirkan talk show mengenai infertilitas dan perjalanan program kehamilan. Para peserta diajak memahami berbagai tantangan yang dapat dihadapi pasangan serta pentingnya evaluasi dan penanganan berdasarkan kondisi masing-masing.
SFC juga menghadirkan kegiatan journaling yang memberikan ruang bagi peserta untuk menuangkan harapan dan perasaan selama menjalani perjalanan mendapatkan buah hati. Sementara sesi hypnotherapy dihadirkan untuk membantu menciptakan suasana yang lebih tenang dan rileks.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya SFC melihat perjalanan fertilitas secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi medis tetapi juga emosional.
“Karena perjalanan fertilitas bukan hanya perjalanan medis, tetapi juga perjalanan emosional yang membutuhkan dukungan,” kata dr. Ni Made Desy.
Selama tiga tahun beroperasi, Smart Fertility Clinic telah mendampingi lebih dari 3.500 pasangan dalam perjalanan program kehamilan.
CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan, mengatakan pencapaian tersebut tidak hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah klinik maupun pasien, tetapi terutama dari pasangan yang telah mendapatkan pendampingan dalam perjalanan mereka menjadi orang tua.
“Bagi kami, tiga tahun perjalanan Smart Fertility Clinic bukan hanya tentang pertumbuhan jumlah klinik atau jumlah pasien. Yang paling penting adalah berapa banyak pasangan yang berhasil kami dampingi dalam perjalanan mereka untuk memiliki buah hati,” ujar dr. Laura.
Ia menyebut angka lebih dari 3.500 pasangan tersebut merepresentasikan ribuan cerita, perjuangan, serta kebutuhan medis yang berbeda.
“Lebih dari 3.500 pasangan telah mempercayakan perjalanan program kehamilan mereka kepada kami. Di balik angka tersebut ada ribuan cerita, perjuangan, dan harapan yang berbeda-beda. Karena itu, kami berusaha memastikan setiap pasien mendapatkan pendekatan yang personal dan program yang sesuai dengan kondisi mereka,” lanjutnya.
Dalam memberikan layanan, SFC menerapkan konsep personalized fertility care dan one stop fertility service. Pasien dapat memperoleh rangkaian layanan secara lebih terintegrasi, mulai dari pemeriksaan awal, konsultasi dan diagnosis, perencanaan program kehamilan, inseminasi, IVF, hingga berbagai advanced fertility treatment.
Berdasarkan data sejak awal operasional hingga Juli 2026, SFC mencatat sekitar 7 dari 10 pasien berhasil mendapatkan kehamilan melalui program kehamilan di klinik tersebut.
Capaian tersebut didukung oleh keahlian dokter, personalized treatment, teknologi reproduksi berbantu, serta laboratorium embriologi yang terintegrasi.
Meski demikian, dr. Laura mengingatkan bahwa angka keberhasilan tidak dapat dijadikan patokan yang sama bagi setiap pasangan. Faktor usia, kondisi medis, serta kompleksitas kasus dapat memengaruhi pilihan treatment maupun peluang keberhasilan.
“Kami melihat angka keberhasilan ini sebagai refleksi dari upaya bersama antara pasien, dokter, dan seluruh tim yang mendampingi perjalanan mereka. Tetapi kami juga selalu menyampaikan kepada pasien bahwa setiap kasus berbeda. Usia, kondisi medis, dan kompleksitas kasus akan sangat memengaruhi pilihan treatment maupun peluang keberhasilan,” jelas dr. Laura.
Karena itu, SFC tidak menjadikan IVF sebagai satu-satunya pilihan bagi seluruh pasien. Evaluasi terhadap kondisi pasangan menjadi tahap awal sebelum menentukan strategi penanganan.
“Kami tidak ingin pasien datang dan langsung berpikir bahwa IVF adalah satu-satunya pilihan. Perjalanan fertilitas harus dimulai dari memahami kondisi masing-masing pasangan, kemudian menentukan program yang sesuai berdasarkan kebutuhan dan kondisi medis mereka,” ujarnya.
Untuk menunjang layanan fertilitas, Smart Fertility Clinic juga mengembangkan kemampuan laboratorium embriologi dengan memanfaatkan sejumlah teknologi.
Teknologi yang digunakan antara lain Time-lapse Incubator untuk membantu pemantauan perkembangan embrio secara berkesinambungan, IMSI (Intracytoplasmic Morphologically Selected Sperm Injection) dengan pembesaran tinggi untuk membantu seleksi sperma berdasarkan morfologi, serta PICSI (Physiological Intracytoplasmic Sperm Injection) yang membantu proses seleksi sperma berdasarkan karakteristik fisiologis tertentu.
SFC juga menggunakan MIRI Evidence, sistem identifikasi berbasis RFID yang membantu proses identifikasi embrio selama kegiatan di laboratorium.
Selain itu, pasien juga dapat memperoleh akses terhadap pemeriksaan kromosom dan genetik embrio sesuai indikasi serta kebutuhan medis.
“Teknologi bagi kami bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa sebuah klinik memiliki teknologi yang canggih. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan secara tepat sesuai dengan kebutuhan pasien dan menjadi bagian dari pengambilan keputusan klinis untuk mengoptimalkan program kehamilan,” jelas dr. Laura.
Selain mendampingi pasangan yang baru memulai program kehamilan, SFC juga menangani pasien dengan kasus fertilitas yang lebih kompleks, termasuk mereka yang sebelumnya telah menjalani berbagai upaya.
Dalam penanganan kasus yang membutuhkan evaluasi dan strategi lebih lanjut, SFC mendapatkan dukungan expertise dan pendampingan dari Prof. DR. Dr. Budi Wiweko, SpOG, MPH, Subsp. FER, FRANZCOG (Hons), FICRM.
Prof. Budi mengatakan pasangan yang telah menjalani perjalanan panjang dengan kondisi kompleks membutuhkan evaluasi secara menyeluruh agar dapat memahami pilihan penanganan yang tersedia.
“Kami memahami bahwa ada pasangan yang sudah menjalani perjalanan panjang dan menghadapi tantangan yang kompleks. Dalam kondisi seperti ini, pasien membutuhkan tim yang dapat melihat kasus secara menyeluruh, memberikan evaluasi yang tepat, dan membantu mereka memahami pilihan yang tersedia,” jelas Prof. Budi Wiweko.
Memasuki tahun ketiga, Smart Fertility Clinic juga membuka cabang kelima di Kelapa Gading, Jakarta. Kehadiran cabang baru tersebut menjadi bagian dari upaya SFC memperluas akses layanan fertilitas kepada lebih banyak pasangan.
Melalui SFC Kelapa Gading, masyarakat dapat memperoleh berbagai layanan, mulai dari fertility screening dan konsultasi, program kehamilan, inseminasi, IVF, hingga advanced fertility treatment.
“Pembukaan Smart Fertility Clinic Kelapa Gading menjadi babak baru bagi perjalanan kami. Setelah tiga tahun, kami ingin terus memperluas akses dan mendekatkan layanan fertilitas kepada lebih banyak pasangan, dengan tetap mempertahankan pendekatan yang personal dan komprehensif,” kata dr. Laura.
Bagi SFC, tiga tahun perjalanan menjadi pengingat bahwa setiap pasangan memiliki kondisi dan cerita yang berbeda. Ada yang baru mulai mencari jawaban, ada yang telah mencoba berbagai program, dan ada pula yang membutuhkan penanganan lebih kompleks.
Karena itu, SFC ingin terus memosisikan diri sebagai mitra bagi pasangan, tidak hanya melalui layanan medis dan teknologi, tetapi juga pendampingan selama menjalani perjalanan mendapatkan buah hati.
“Pada akhirnya, bagi kami, keberhasilan bukan hanya tentang angka. Di balik setiap pasien ada pasangan yang memiliki harapan untuk menjadi orang tua. Dan itulah yang ingin terus kami perjuangkan bersama pasien kami—menjaga harapan, memberikan pilihan, dan mendampingi mereka dalam setiap langkah perjalanan,” tutup dr. Laura. (*/san)
