JAKARTA, VISTA.CO.ID – Rumah Sakit (RS) Sumber Waras menggelar seminar awam bertema “Berat Badan Turun, Kualitas Hidup Naik: Solusi Tuntas Obesitas dari Obat, Diet hingga Operasi Bariatrik” pada Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Auditorium Lantai 8 RS Sumber Waras, Jakarta itu, sebagai bagian dari upaya edukasi publik dalam menghadapi obesitas, yang kini semakin banyak diperbincangkan sebagai masalah kesehatan serius di Indonesia.
Seminar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-64 Yayasan Kesehatan Sumber dan RS Sumber Waras tersebut, menghadirkan salah satu narasumber yakni Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp.B., Subsp. B.D.(K), dokter spesialis bedah dengan subspesialisasi bedah digestif.
Ia memaparkan berbagai opsi penanganan obesitas secara komprehensif, mulai dari terapi obat-obatan, pengaturan pola makan (diet), hingga prosedur operasi bariatrik bagi pasien dengan indikasi medis tertentu.
Obesitas Adalah Penyakit Kronis, Bukan Sekadar Soal Berat Badan
Dr. Peter menegaskan bahwa obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang berdampak sistemik pada tubuh, bukan semata persoalan penampilan.
“Obesitas adalah penyakit. Ini penyakit yang sifatnya kronis. Kalau seseorang mengalami obesitas, maka ia senantiasa dalam keadaan meradang — nadinya sedikit tinggi, suhunya sedikit tinggi — karena jaringan lemak tubuh kita menghasilkan zat-zat yang meningkatkan peradangan. Itu akan menjadi beban bagi tubuh kita. Jadi, tidak ada istilahnya gemuk tapi sehat, itu tidak masuk,” ujar Dr. Peter.

Ia menambahkan, meski operasi bariatrik kerap dianggap sebagai langkah ekstrem oleh sebagian masyarakat, prosedur ini sesungguhnya merupakan penanganan terhadap kondisi yang berisiko mengancam jiwa.
“Kenapa sih harus sampai dibedah? Ekstrem banget, banyak orang menganggap begitu. Bahkan pasien yang menjalani bedah bariatrik pun kerap mendapat cibiran. Padahal, ini adalah persoalan yang dapat mengancam jiwa,” jelasnya.
Persiapan Mental dan Diet Pre-Operasi, Kunci Sebelum Bariatrik
Dr. Peter menjelaskan bahwa persiapan pasien sebelum menjalani operasi bariatrik menjadi perhatian utama di RS Sumber Waras, di tengah semakin banyaknya pusat layanan bariatrik yang menawarkan proses instan.
“Ini adalah kesempatan emas untuk memperbaiki gaya hidup kita. Hal yang penting adalah kita sudah menyiapkan diri — kalau mau bariatrik, kita siapkan dulu mentalnya. Sekarang banyak pusat bariatrik yang menjadi pesaing, bisa datang hari ini, besok langsung operasi,” katanya.
“Di tempat kami, kami berusaha untuk tidak melakukan itu. Kami mempersiapkan pasien terlebih dahulu, termasuk menjalani diet pre-operasi, karena selain membuat operasi menjadi lebih mudah, niat pasien juga akan terbangun. Ini bukan seperti membeli kacang goreng — begitu punya uang, datang ke toko, beli, lalu makan. Ini adalah perjuangan seumur hidup,” papar Dr. Peter.
Ia menekankan pentingnya komitmen jangka panjang pasien pascaoperasi, termasuk kontrol rutin dan pendampingan dari dokter gizi.
“Mulai sekarang, pasien sudah menandatangani semacam kontrak bahwa mereka harus tetap kontrol dan berhubungan dengan dokter gizi. Itu penting. Kami biasanya meminta pasien menjalani diet terlebih dahulu, kadang dua minggu, satu minggu, atau minimal empat hari,” katanya.
Dr. Peter menyoroti perbedaan pendekatan ini dengan sejumlah layanan bariatrik lain, termasuk di luar negeri, yang cenderung menawarkan proses operasi secara instan tanpa persiapan memadai.
“Problemnya, banyak tempat lain — misalnya di luar negeri, khususnya di destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan — di mana pasien bisa datang hari ini dan besoknya langsung dioperasi. Ini menjadi masalah karena benar-benar tidak memandang masa depan pasien, yang penting operasinya selesai,” ujarnya.
Tingkat Keberhasilan Tinggi, Namun Mempertahankan Hasil Adalah Tantangan Tersendiri
“Bedah bariatrik memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dibandingkan terapi lain, dan sudah banyak contoh keberhasilannya. Namun, keberhasilan menurunkan berat badan itu berbeda dengan keberhasilan mempertahankannya. Istilah ‘bariatrik’ sendiri sering disalahpahami dengan ‘hiperbarik’, padahal bariatrik adalah bedah untuk penanganan obesitas,” jelas Dr. Peter.

Tren Bariatrik di Indonesia: dari 1950-an ingga Lonjakan Pasca-2023
Dr. Peter turut memaparkan sejarah panjang teknik bedah bariatrik serta tren peningkatan minat masyarakat Indonesia terhadap prosedur ini dalam beberapa tahun terakhir.
“Teknik bedah bariatrik itu sebenarnya sudah ada sejak tahun 1950-an, jadi bukan hal baru — usianya sudah 70 sampai 80 tahun. Di Indonesia, popularitasnya baru meledak sejak 2023, setelah penyanyi Melly Goeslaw secara terbuka menceritakan pengalamannya menjalani bedah bariatrik. Sejak itu, banyak orang menjadi lebih berani untuk menjalani prosedur yang sama,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemantauan jangka panjang pascaoperasi, mengingat pola kenaikan minat sejak 2023 kini memasuki fase kritis tiga tahun kemudian.
“Setelah tiga tahun, saya sudah memprediksi bahwa akan banyak pasien yang mengalami weight regain dan mulai kembali berkonsultasi. Tren ini meningkat sejak 2023, dan tiga tahun kemudian jatuh pada tahun 2026 — sekarang,” tutup Dr. Peter.
Komitmen RS Sumber Waras dalam Edukasi dan Layanan Penanganan Obesitas
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, dr. David Eka Djaja, MARS,
Direktur Medik & Keperawatan RS Sumber Waras, menyampaikan bahwa melalui seminar awam ini, RS Sumber Waras berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa penanganan obesitas perlu dilakukan secara menyeluruh dan bertahap — mulai dari perubahan gaya hidup, terapi medis, hingga tindakan bedah bagi pasien dengan indikasi tertentu — disertai pendampingan medis dan gizi yang berkesinambungan sebelum maupun sesudah prosedur dilakukan.
“RS Sumber Waras berkomitmen untuk terus menghadirkan program edukasi kesehatan bagi masyarakat guna mendukung upaya pencegahan dan penanganan obesitas secara tepat dan bertanggung jawab,” katanya. (Ign)
