JAKARTA, VISTA.CO.ID – Penyanyi Shandy Sondoro turut memberikan warna berbeda dalam “Konser Tribute to 2D” yang digelar di deConcert Room, Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan. Membawakan sejumlah karya legendaris milik duo Deddy Dhukun dan almarhum Dian Pramana Poetra, Shandy menghadirkan karakter vokal bluesy yang membuat lagu-lagu 2D terdengar lebih segar.
Konser yang digelar Deheng House bekerja sama dengan Bookcabin dan DMC tersebut menjadi ajang untuk mengenang perjalanan panjang 2D di industri musik Indonesia. Sejumlah penyanyi dari lintas generasi hadir dengan interpretasi masing-masing terhadap karya-karya yang telah dikenal luas oleh masyarakat.
Shandy Sondoro menjadi salah satu penampil yang memberikan pendekatan musikal berbeda. Ia menginterpretasikan lagu “Semua Jadi Satu, Jakarta” dan “Aku Jadi Bingung” dengan karakter vokalnya yang kuat dan bernuansa blues.
Pilihan tersebut membuat penampilan Shandy terasa berbeda dari karakter lagu 2D yang selama ini dikenal pendengarnya. Sentuhan blues yang menjadi bagian dari karakter musikal Shandy memberikan dimensi baru tanpa menghilangkan nuansa nostalgia dari karya aslinya.
Shandy tampil hangat dan intim di hadapan ratusan penonton. Penampilannya semakin kuat dengan dukungan Audiensi Band, kelompok musik pengiring yang memiliki pengalaman mendampingi sejumlah penyanyi papan atas Indonesia.
Permainan Audiensi Band yang matang membuat interpretasi Shandy terhadap lagu-lagu 2D terdengar solid. Perpaduan antara karakter vokal bluesy Shandy dan aransemen musik yang dimainkan secara langsung menjadikan penampilannya sebagai salah satu bagian menarik dalam rangkaian konser.
Konser tersebut dibuka oleh Pesona Tiga Suara yang merupakan anak-anak dari Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra. Mereka membawakan “Jatuh Hatiku”, “Esok Kan Masih Ada”, “Sepanjang Jalan Tol”, dan “Bohong” dengan energi khas generasi penerus.
Setelah Shandy, penyanyi Andien tampil membawakan “Aku Ini Punya Siapa”, “O Ya”, dan “Kau Seputih Melati”. Andien menghadirkan pendekatan vokal yang lembut dengan sentuhan jazzy.
Sementara itu, Wijaya 80 yang digawangi Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe membawakan “Yang Terbaik untuk Kita”, “Melati di Atas Bukit”, “Melayang”, serta “Keraguan”.
Keberagaman karakter para penampil membuat repertoar 2D terdengar dalam berbagai warna musikal. Lagu-lagu yang telah melewati perjalanan panjang tersebut kembali mendapatkan interpretasi baru tanpa kehilangan nilai nostalgia yang melekat di dalamnya.
Puncak konser kemudian ditutup oleh Deddy Dhukun. Sebagai anggota 2D yang masih aktif berkarya, Deddy tampil emosional ketika membawakan sejumlah lagu dan mengenang Dian Pramana Poetra yang telah berpulang.
Deddy menyanyikan “Puji Syukur”, “Biru”, “Masih Ada”, “Sebelum Aku Pergi”, “Kusadari”, hingga “Jalan Masih Panjang”. Penampilannya menjadi momen penuh haru sekaligus perayaan terhadap perjalanan panjang 2D.
Melalui kehadiran Shandy Sondoro, karya-karya 2D kembali diperkenalkan dalam perspektif musikal yang berbeda. Karakter bluesy yang dibawanya membuktikan bahwa lagu-lagu lama tetap dapat berkembang dan menemukan warna baru ketika dibawakan oleh musisi dengan karakter berbeda.
“Konser Tribute to 2D” pun tidak sekadar menjadi pertunjukan nostalgia. Konser ini menjadi ruang untuk mempertemukan karya para legenda dengan musisi lintas generasi sekaligus menjaga agar warisan musik 2D tetap hidup di tengah perkembangan musik Indonesia. (*/san)
