JAKARTA, VISTA.CO.ID – Yura Yunita memberikan ruang luas bagi pendengar untuk menafsirkan karya terbarunya. Melalui single “Pertiwi”, Yura tidak ingin publik terpaku pada satu pesan tertentu.
Lagu tersebut mengangkat pengalaman emosional tentang keberanian untuk bersuara setelah terlalu lama memilih diam.
Di dalamnya terdapat berbagai emosi yang saling berkelindan, seperti takut, marah, kecewa dan keberanian. Semua perasaan tersebut kemudian dirangkai menjadi perjalanan menuju keputusan untuk tidak lagi memendam apa yang ingin disampaikan.
“Pertiwi” ditulis oleh Donne Maula dengan notasi dari Yura Yunita. Iwan Popo dipercaya sebagai produser musik yang menghadirkan aransemen megah, tetapi tidak mengambil alih ruang emosional yang menjadi kekuatan utama lagu.
Vokal Yura terdengar kuat sekaligus menyimpan kerentanan. Karakter tersebut membuat lagu terasa seperti suara seseorang yang masih diliputi ketakutan, tetapi memilih untuk tetap berdiri dan berbicara.
Makna “Pertiwi” pun dapat berubah bergantung pada siapa yang mendengarkannya.
Ada yang mungkin merasakan lagu tersebut sebagai cerita tentang ketidakadilan. Pendengar lainnya bisa menghubungkannya dengan sosok ibu, perempuan yang lama memilih diam, atau persoalan yang sebenarnya terjadi dalam diri sendiri.
Yura sengaja membiarkan ruang tersebut terbuka.
“Dengarkan dan nikmati saja lagu dan video musiknya. Cari ruang yang sedikit sunyi, biarkan lagunya selesai. Lalu tunggu beberapa detik dalam hening,” tutur Yura.
Video musik “Pertiwi” juga dirilis bersamaan dengan audionya. Dalam proyek tersebut, Yura berkolaborasi dengan Kathleen Malay sebagai sutradara dan Siko Setyanto sebagai koreografer.
Visual tersebut semakin memperkuat atmosfer emosional yang dibangun melalui musik.
Bagi Yura, keberanian bukan selalu tentang berbicara dengan suara paling keras. Ada kalanya keberanian justru hadir ketika seseorang masih gemetar dan takut, tetapi memutuskan untuk tidak mundur.
“Pertiwi” akhirnya menjadi ruang bagi setiap pendengar untuk menemukan cerita mereka sendiri. Bisa jadi tentang dunia di sekitar, orang lain, atau sesuatu yang selama ini tersimpan jauh di dalam diri. (*/san)
