JAKARTA, VISTA.CO.ID – Tidak semua luka mudah diceritakan dengan kata-kata. Bagi Nadin Amizah, musik menjadi salah satu ruang untuk mengolah perasaan tersebut.
Hal itu terasa dalam album penuh ketiganya, Laika, Yang Ditinggalkan, yang resmi dirilis melalui label Sorai.
Album berisi 11 lagu dengan durasi sekitar 51 menit tersebut membawa pendengar pada perjalanan emosional tentang cinta, kehilangan, kesepian, amarah, serta kerinduan menemukan sosok atau tempat yang terasa seperti rumah.
Nadin memilih kisah Laika sebagai inspirasi judul album. Laika merupakan anjing betina yang dikirim Uni Soviet dalam misi luar angkasa satu arah.
Kisah tersebut menggambarkan sebuah perjalanan yang tidak berakhir dengan kepulangan. Bagi Nadin, cerita itu dapat menjadi metafora tentang seseorang yang mengharapkan kasih sayang, tetapi akhirnya merasa hanya dimanfaatkan dan ditinggalkan.
“Yang sedang kau lihat bukan benci hanya perih. Yang terlalu lama membekas, mengeras, menjadi marah yang tak punya jalan untuknya keluar,” ujar Nadin.
Perasaan tersebut kemudian diterjemahkan melalui sejumlah lagu, termasuk Reservasi Untuk Dua.
Menariknya, Nadin juga membuka ruang bagi cerita yang berangkat dari realitas sosial. Ditemukan Sebuah Bangkai terinspirasi dari peristiwa ditemukannya jenazah tanpa identitas saat banjir Jakarta pada malam Tahun Baru 2020.
Album ini juga menyentuh persoalan kesepian dan kehilangan figur ayah melalui tema fatherless.
Kehilangan yang berlangsung lama, menurut Nadin, bukan sesuatu yang selalu berhenti sebagai kesedihan. Dalam kondisi tertentu, perasaan tersebut dapat berubah menjadi kemarahan.
Karena itu, Laika, Yang Ditinggalkan terasa seperti perjalanan melewati banyak lapisan emosi. Ada cinta yang pernah tumbuh, kehilangan yang meninggalkan bekas, kesepian yang sulit dijelaskan, hingga keinginan untuk menemukan tempat yang dapat disebut rumah.
Untuk menghadirkan perjalanan tersebut secara musikal, Nadin melibatkan sekitar 10 produser dalam penggarapan 11 lagu. Beberapa di antaranya adalah Lafa Pratomo, Baskara Putra, Enrico Octaviano, Otta Tarega, dan Feby Putri.
Album ini pun menjadi penanda babak baru Nadin Amizah, sekaligus ruang untuk menyampaikan bahwa di balik kemarahan, terkadang terdapat luka yang belum selesai ditemukan tempat pulangnya. (*/san)
