SINGAPURA, VISTA.CO.ID – Jumlah identitas pengguna media sosial di seluruh dunia mencapai 5,81 miliar atau setara dengan 69,9 persen populasi global. Data tersebut terungkap dalam laporan Digital 2027 yang dirilis We Are Social dan Meltwater pada 22 Oktober 2026.
Dalam setahun terakhir, jumlah identitas pengguna media sosial bertambah 151 juta, atau tumbuh 2,7 persen. Perkembangan ini menegaskan bahwa platform sosial masih menjadi bagian penting dalam aktivitas masyarakat, mulai dari berkomunikasi hingga mencari informasi dan menentukan pilihan belanja.
Laporan Digital 2027 juga mencatat perubahan intensitas penggunaan layanan digital. Rata-rata pengguna internet menghabiskan waktu 19 jam 18 menit setiap minggu untuk mengakses media sosial dan platform video daring. Angka tersebut meningkat 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi waktu penggunaan secara global, YouTube mencatat porsi terbesar, disusul WhatsApp dan Instagram. Sementara itu, jika diukur berdasarkan rata-rata waktu yang dihabiskan setiap pengguna aktif per hari, TikTok menempati posisi teratas dengan durasi satu jam 55 menit.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa setiap platform memiliki pola keterlibatan pengguna yang berbeda. Bagi perusahaan dan pemasar, pemahaman mengenai karakteristik masing-masing platform menjadi penting untuk menentukan strategi komunikasi yang sesuai dengan kebiasaan audiens.
Media sosial juga semakin berperan dalam proses pencarian informasi mengenai produk dan merek, terutama di kalangan anak muda. Laporan itu menyebutkan, 46,9 persen pengguna internet berusia 16–24 tahun menjadikan platform seperti Instagram dan Facebook sebagai sumber informasi utama ketika meneliti merek dan mempertimbangkan pembelian.
CEO We Are Social APAC, Suzie Shaw, menegaskan bahwa media sosial tetap berperan besar dalam membentuk preferensi konsumen meskipun teknologi kecerdasan buatan semakin berkembang.
Menurut Suzie, percakapan dan rekomendasi masyarakat di media sosial kini turut memengaruhi informasi yang disajikan oleh platform AI. Karena itu, merek perlu memperhatikan bukan hanya konten yang mereka publikasikan, melainkan juga bagaimana masyarakat membicarakan dan menilai mereka.
Ia menilai, perusahaan yang mampu membangun komunitas dan mendapatkan rekomendasi autentik dari konsumen memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan di tengah perubahan perilaku digital.
Selain pertumbuhan media sosial dan AI, Digital 2027 mengungkapkan bahwa penetrasi internet global telah mencapai 6,15 miliar pengguna, atau sekitar 73,9 persen populasi dunia.
Di sisi lain, pola penggunaan internet tradisional juga mengalami perubahan. Laporan tersebut mencatat bahwa total trafik bulanan pada 10.000 domain web terbesar di dunia turun lebih dari 10 persen sejak ChatGPT diluncurkan untuk publik. Total waktu yang dihabiskan pengguna untuk mengakses web juga menurun 11,2 persen dalam dua tahun terakhir.
Meski demikian, mesin pencari masih lebih banyak digunakan untuk riset merek dibandingkan platform AI. Pengguna dewasa yang mengakses internet tercatat 74 persen lebih mungkin menyatakan menggunakan mesin pencari saat mencari informasi tentang merek daripada mengunjungi platform AI.
Perubahan ini menunjukkan bahwa perkembangan AI bukan satu-satunya faktor yang membentuk kebiasaan daring. Peralihan ke aplikasi seluler, penggunaan media sosial, dan perubahan cara masyarakat mengakses informasi turut memengaruhi ekosistem digital.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa belanja iklan digital meningkat 8,7 persen dalam setahun terakhir. Belanja iklan media sosial naik 18 persen, sementara belanja iklan influencer tumbuh 15 persen.
Wakil Presiden Penjualan Enterprise Meltwater untuk Asia Pasifik, Mimrah Mahmood, mengatakan perbedaan perilaku digital dan preferensi platform di berbagai pasar Asia Pasifik membuat perusahaan tidak lagi dapat mengandalkan satu saluran untuk menjangkau audiens.
Menurutnya, pelaku pemasaran dan komunikasi perlu menggabungkan pemantauan media, media sosial, mesin pencari, dan kecerdasan AI untuk memahami perubahan perilaku masyarakat serta menentukan strategi yang lebih tepat.
Dengan jumlah pengguna media sosial yang mendekati 5,81 miliar, persaingan merebut perhatian audiens semakin penting bagi merek. Namun, besarnya jangkauan digital perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, konteks budaya, dan kepercayaan yang dibangun melalui interaksi sehari-hari. (*/san)
