JAKARTA, VISTA.CO.ID – Bagi Addie MS, musik bukan hanya tentang nada dan harmoni. Di balik sebuah rekaman terdapat keputusan artistik yang terkadang terus teringat bahkan setelah puluhan tahun berlalu.
Hal tersebut dirasakan Addie ketika kembali mendengarkan “Sendiri”, karya Guruh Sukarnoputra yang dipopulerkan Chrisye pada 1984.
Selama 42 tahun, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: keseimbangan antara piano yang ia mainkan dengan vokal Chrisye.
Addie merasa permainan pianonya pada versi lama terlalu dominan. Meski mengakui bahwa persoalan tersebut sangat subjektif, ia tetap merasa perlu melakukan pembenahan.
“Tahun demi tahun sampai puluhan tahun, sampai 42 tahun, kok saya masih gatal gitu. Ini kenapa sih?” kata Addie.
Keresahan tersebut bahkan ia gambarkan sebagai perasaan bersalah kepada Chrisye. Bagi Addie, persoalan itu menjadi bagian dari warisan artistik yang ingin ia selesaikan sebelum waktunya tiba.
“Saya merasa dosa sama almarhum Chrisye,” tuturnya.
Setelah berbicara dengan Teddy Riadi dari Musica Studio’s, Addie memperoleh akses terhadap master rekaman yang berisi materi vokal dan instrumen sebelum proses mixing.
Ia kemudian membawa materi tersebut ke rumah dan menghabiskan sejumlah waktu untuk mendengarkan, menyesuaikan, serta menata ulang keseimbangan suara.
“Saya bawa ke rumah, saya mixing sendiri di rumah. Ngutak-ngatik beberapa hari,” ungkapnya.
Proses tersebut dilakukan dengan sangat personal. Tidak ada target besar pada awalnya. Addie hanya ingin menyelesaikan pekerjaan yang selama puluhan tahun mengganjal di pikirannya.
“Yang penting saya udah plong gitu kan,” katanya.
Namun, cerita kemudian berkembang. Musica Studio’s menilai hasil pengerjaan tersebut memiliki nilai untuk dinikmati lebih luas. Versi baru “Sendiri” pun kemudian dipersiapkan untuk dirilis kembali dan dilengkapi dengan video musik.
Bagi Addie, proses tersebut juga menghadirkan pengalaman emosional yang sulit dijelaskan. Ia mengaku lebih sering bekerja selepas tengah malam, ketika suasana sudah sangat hening.
Dalam kondisi tersebut, suara Chrisye yang terdengar dari rekaman seakan membawanya kembali ke masa lalu.
“Saya dengar suara orang yang, ya kan, Chrisye udah enggak ada kan ya. Saya enggak tahu merasa ini Chrisye lagi di dekat saya nggak ya?” ucapnya.
Kenangan 42 tahun silam pun kembali muncul.
“Bayang-bayang 42 tahun yang lalu tuh keluar gitu,” lanjut Addie.
Kini, kegelisahan tersebut telah menemukan penutupnya. “Sendiri” versi 2026 menjadi bentuk penghormatan Addie terhadap Chrisye sekaligus upaya merawat karya Guruh Sukarnoputra.
Lebih dari sekadar versi baru sebuah lagu lama, rilisan ini membawa kisah tentang waktu, persahabatan, rasa bersalah, kecintaan terhadap musik, dan keinginan seorang seniman untuk meninggalkan warisan yang terasa lebih sempurna di dalam hatinya.
Setelah lebih dari empat dekade, Addie MS akhirnya dapat menatap kembali “Sendiri” dengan perasaan yang lebih tenang. (*/san)
