JAKARTA, VISTA.CO.ID – Di balik karya-karyanya yang kini menjangkau banyak pendengar, Mighfar Suganda memiliki perjalanan personal yang tidak selalu mudah. Penyanyi dan penulis lagu tersebut memulai langkah baru dalam hidupnya pada 2020, ketika berada dalam masa sulit yang mendorongnya mencari jalan untuk memulihkan diri.
Pada masa itu, Mighfar memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mulai menulis serta merilis lagu sebagai bagian dari proses penyembuhan diri. Musik kemudian menjadi medium untuk mengekspresikan perasaan yang sulit disampaikan melalui kata-kata biasa.
Perjalanan tersebut kini berlanjut melalui single Semesta, yang menjadi bagian dari mini album Semesta Nirvana. Dalam karya terbarunya, Mighfar mengangkat persoalan kehilangan, kesedihan, dan perjuangan untuk tetap bertahan di tengah keadaan yang tidak mudah.
Lagu Semesta membawa pesan tentang menghargai kehidupan. Melalui metafora “hidup 1000 tahun lagi”, lagu tersebut menggambarkan tekad untuk terus menjalani hari-hari yang tersedia dan tidak menyerah pada beratnya kenyataan.
Nuansa emosionalnya diperkuat oleh penggunaan birama 6/8, berbeda dari pola 4/4 yang sebelumnya banyak digunakan Mighfar. Aransemen tersebut membangun suasana yang lebih intens, dengan paduan suara megah pada bagian akhir sebagai penegasan pesan lagu.
Perjalanan pemulihan juga menjadi benang merah dalam proyek Semesta Nirvana. Lagu Nirvana menggambarkan cinta dan impian tertinggi, sedangkan Semesta menghadirkan sisi kehidupan yang lebih getir ketika manusia harus berhadapan dengan kenyataan.
Mighfar turut memperluas kisah tersebut melalui novel perdananya, Semesta, yang diterbitkan Penerbit Aksara. Novel itu menguraikan rasa sakit di balik tiap lagu, sehingga pembaca dapat menyelami cerita dari sudut pandang yang berbeda.
Video musik Semesta melengkapi proyek tersebut dengan visual teatrikal yang menyoroti kisah cinta, perbedaan keyakinan, dan perpisahan. Rangkaian karya ini memperlihatkan upaya Mighfar merangkum pengalaman emosional dalam bentuk musik, sastra, dan visual.
Dari perjalanan yang berawal pada masa sulit, Mighfar kini telah merilis karya yang menjangkau pendengar melalui berbagai platform digital. Lagu-lagunya, termasuk Gemuruh Riuh dan Anti Hero, disebut telah berkontribusi terhadap total lebih dari 200 juta penayangan dan pemutaran.
Perjalanan itu memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dapat menjadi sumber penciptaan karya. Bagi pendengar, Semesta hadir sebagai ajakan untuk memberi ruang bagi kesedihan tanpa kehilangan kesempatan untuk pulih dan melanjutkan hidup.
Pesan tersebut menjadi inti dari karya terbaru Mighfar Suganda: menerima bahwa kehidupan tidak selalu mudah, sembari tetap mencari alasan untuk bertahan dan menemukan harapan. (*/san)
