JAKARTA, VISTA.CO.ID – Sutradara Garin Nugroho kembali mengeksplorasi sejarah Indonesia melalui film panjang terbarunya, Merah Sebelum Fajar (Red Before Dawn). Film ini mengambil latar setahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Berlatar Indonesia tahun 1946, film tersebut tidak hanya menghadirkan suasana masa awal kemerdekaan, tetapi juga mengajak penonton mengikuti perjalanan sejumlah karakter dengan latar belakang berbeda.
Tokoh FRANS yang diperankan Nicholas Saputra bersama empat karakter lainnya harus melintasi negeri dengan membawa sebuah dokumen penting. Dalam perjalanan, mereka justru berhadapan dengan kecurigaan dan situasi yang tidak selalu mudah.
Pilihan periode tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan Garin dalam mengembangkan cerita. Ia melihat masa-masa awal kemerdekaan sebagai periode yang menyimpan banyak pengalaman manusia yang belum banyak diangkat ke layar.
“Saya tertarik kembali ke tahun-tahun awal kemerdekaan karena masih banyak pengalaman manusia dari masa itu yang belum hadir di layar,” ujar Garin Nugroho.
Melalui Merah Sebelum Fajar, Garin ingin membangun perjalanan yang memperlihatkan Indonesia sebagai sebuah negeri yang sedang mengalami perubahan. Konflik dan hubungan antarkarakter menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
“Dalam Merah Sebelum Fajar, kami membangun sebuah perjalanan untuk melihat Indonesia pada masa yang penuh perubahan,” kata Garin.
Film ini dibintangi sejumlah aktor dan aktris ternama, yakni Nicholas Saputra, Laura Basuki, Bront Palarae, Tissa Biani, dan Nagra Pakusadewo. Sementara skenario ditulis oleh Garin Nugroho bersama Dirmawan Hatta.
Karya tersebut diproduksi Atarui Films dengan menggandeng JAGARTHA, Springboard, Trinity Optima Production, dan IMAJINARI serta mendapat dukungan dari Laspro.
Menariknya, Merah Sebelum Fajar akan melakukan world premiere dalam program Main Competition Tokyo International Film Festival 2026. Film ini menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berkompetisi bersama 14 film lainnya.
Garin pun menyambut kesempatan tersebut sebagai momen bagi filmnya untuk bertemu langsung dengan penonton. “Saya senang film ini akan bertemu penonton untuk pertama kalinya di Tokyo,” tuturnya.
Keikutsertaan dalam festival tersebut menjadi ruang bagi Merah Sebelum Fajar untuk membawa cerita Indonesia tentang masa awal kemerdekaan ke panggung perfilman internasional. (*/san)
