JAKARTA, VISTA.CO.ID – Delapan lagu menjadi perjalanan panjang yang dirangkai Tenholes dalam album “Satya”. Band asal Jakarta Timur tersebut resmi meluncurkan album punk rock itu pada 25 September 2026 dengan membawa cerita yang bergerak dari kehidupan seorang anak hingga manusia dewasa.
“Satya” tidak dibangun sebagai kumpulan lagu yang berdiri sendiri. Setiap lagu memiliki tema yang saling berhubungan, mulai dari kehidupan jalanan, keluarga, cinta, kehilangan, tanggung jawab, keresahan pekerja hingga persoalan sosial.
Ukien Skins, vokalis Tenholes, mengatakan album tersebut memiliki gagasan utama mengenai janji yang terus dipertahankan.
“‘Satya’ itu tentang janji, api yang kita jaga, dan perlawanan yang tidak pernah padam,” ujar Ukien Skins.
Cerita dimulai melalui “Sudut Kota”. Lagu tersebut menggambarkan fase ketika seorang anak mulai mengenal kehidupan di luar rumah, termasuk persahabatan, kesepian dan berbagai konflik yang hadir di lingkungan sekitarnya.
Lagu ini menjadi satu-satunya materi dalam album yang memiliki kredit lirik CPX, Juanda, Reno Farid dan Ukien Skins.
Setelah kehidupan jalanan, Tenholes membawa pendengar ke ruang keluarga lewat “Hai! Nak”. Lagu tersebut menggambarkan komunikasi antara ayah dan anak mengenai nilai-nilai kehidupan yang diwariskan antargenerasi. Pearly, Chelsea dan Ruby turut terlibat sebagai backing vocals.
Kemudian hadir “Api Yang Pernah Kita Jaga” sebagai focus track. Lagu tersebut bercerita tentang sesuatu yang pernah dijaga dan diperjuangkan, tetapi pada akhirnya harus dilepaskan.
Ditulis oleh Ukien Skins, Andyan Gorust dan Endry Poison, lagu ini menjadi refleksi mengenai kehilangan sekaligus proses menerima kenyataan.
Cerita berlanjut melalui “Janji Lelaki”, yang membawa tema tanggung jawab. Keberanian dalam lagu tersebut tidak digambarkan sebagai ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap berjalan meski menghadapi ketakutan. Zuri Mandolina turut memberikan sentuhan mandolin.
Memasuki lagu berikutnya, “Membakar Malam” menggambarkan kehidupan pekerja kota dengan berbagai rutinitas dan tekanan. Kemacetan serta tagihan menjadi bagian dari realitas yang diangkat dalam lagu.
Dari persoalan personal, “Tiga” kemudian membawa album memasuki persoalan sosial. Lagu ini berbicara mengenai kekerasan dan ketidakadilan dengan energi drum Andyan Gorust.
Sementara itu, “Darah Daging” menghadirkan cerita yang kembali dekat dengan keluarga. Lagu tersebut terinspirasi dari kisah seorang ayah yang anaknya menjadi korban perundungan dan mempertanyakan bagaimana seseorang seharusnya bertindak ketika ingin melindungi keluarga.
Setelah berbagai konflik dan energi yang muncul sepanjang album, Tenholes memilih menutup “Satya” melalui “Semua Sodara (Piano Version)”. Nuansanya lebih sederhana dan reflektif dengan permainan piano Diva Azalia serta violin Arend Stevanus Michiels.
Penutup tersebut menegaskan gagasan mengenai persaudaraan di tengah berbagai perbedaan.
Album “Satya” dirilis melalui demajors dalam format digital dan CD. Versi digital telah tersedia di seluruh platform streaming digital, sedangkan CD dapat diperoleh melalui situs resmi demajors dan jaringan edar mereka.
Melalui delapan lagu tersebut, Tenholes tidak hanya menghadirkan energi khas punk rock, tetapi juga sebuah cerita mengenai tumbuh dewasa, mencintai, kehilangan, menghadapi realitas dan pada akhirnya belajar menerima kehidupan. (*/san)
